(C) TURANGGA SETA - Oleh Agung Bimo Sutedjo dan Timmy Hartadi
Source lengkap ada di :
www.lakubecik.org
Awalnya Kahyangan
BAB I
Pada awalnya, saat Alam Semesta ini masih suwung [kosong], belum ada
kehidupan, tidak ada bintang, tidak ada planet-planet, dan tidak ada
unsur apapun, hanya terdapat sebuah sosok yang bernama
Sang Hyang Ogra Pesti, wujud Beliau tidak kelihatan karena diselimuti oleh cahaya yang sangat berkilau.
-
Sang Hyang Ogra Pesti yang tak lain adalah Sang Maha Pencipta,
kemudian menciptakan sosok yang bernama
Sang Hyang Bramana Wasesa.
-
Sang Hyang Bramana Wasesa,
kemudian menciptakan sosok yang bernama
Sang Hyang Toya Wasesa.
-
Sang Hyang Toya Wasesa,
kemudian menciptakan sosok yang bernama
Sang Hyang Wiji Wasesa Jagad.
-
Sang Hyang Wiji Wasesa Jagad,
kemudian menciptakan sosok yang bernama
Sang Hyang Jagad Pramana.
-
Sang Hyang Jagad Pramana,
kemudian menciptakan sosok yang bernama
Sang Hyang Wasesa Jagad Pramana.
-
Sang Hyang Wasesa Jagad Pramana,
kemudian menciptakan sosok yang bernama
Sang Hyang Jagad Kitaha.
-
Sang Hyang Jagad Kitaha,
kemudian menciptakan sosok yang bernama
Sang Hyang Atmana.
-
Sang Hyang Atmana,
kemudian menciptakan sosok yang bernama
Sang Hyang Atmani.
-
Sang Hyang Atmani,
kemudian menciptakan sosok yang bernama
Sang Hyang Arta Etu.
-
Sang Hyang Arta Etu,
kemudian menciptakan sosok yang bernama
Sang Hyang Wilangan.
-
Sang Hyang Wilangan,
kemudian menciptakan sosok yang bernama
Sang Hyang Kasaha Etu Jagad.
-
Sang Hyang Kasaha Etu Jagad,
kemudian menciptakan sosok yang bernama
Sang Hyang Tunggal.
-
Sang Hyang Tunggal,
kemudian menciptakan sosok yang bernama
Sang Hyang Wenang atau yang dikenal juga
dengan nama
Sang Hyang Podo Winenang.
-
Sang Hyang Wenang,
kemudian menciptakan sosok yang bernama
Sang Hyang Wening.
Berturut-turut dari Sang Hyang Ogra Pesti yang berputra Sang Hyang
Bramana Wasesa sampai ke Sang Hyang Wening, semuanya tinggal di
Kahyangan Alang-Alang Kumitir.
Sang Hyang Wening atas seijin dari sang rama yaitu Sang Hyang Wenang kemudian menciptakan
Kahyangan Manik Maninten yang letaknya di bawah Kahyangan Alang-Alang Kumitir dan juga menciptakan sebuah
telur. Kemudian telur diremas dan pecah menjadi 3 bagian, dan semua bagian melayang-layang.
Bagian pertama adalah kulit atau
cangkang telur yang walaupun remuk dan retak-retak tetapi tetap melayang-layang, begitu juga bagian isi yaitu
putih telur dan
kuning telur, akan tetapi pada awalnya bagian putih telur dan kuning telur masih menyatu dan tersambung.
Kemudian oleh Sang Hyang Wening, bagian cangkang telur disabda menjadi sosok yang bernama
Batara Antiga atau nama lainnya adalah
Teja Mantri. Setelah itu putih telur dan kuning telur dipisah oleh Sang Hyang Wening, dari putih telur disabda menjadi sosok yang bernama
Batara Ismaya sedangkan bagian kuning telur yang masih melayang-layang kemudian ditangkap dan disabda menjadi sosok yang bernama
Batara Manik Maya.
Ketiganya, yaitu Batara Antiga, Batara Ismaya dan Batara Manik Maya
berparas sangat tampan dan tinggal rukun di Kahyangan Manik Maninten dan
setelah itu Sang Hyang Wening kembali ke Kahyangan Alang-Alang Kumitir.
Batara Antiga adalah Dewa yang pertama kali mencoba untuk keluar dari
Kahyangan Manik Maninten dan mencoba meniru kebisaan dari Sang Hyang
Wening dengan melakukan berbagai sabda, karena kesalahan sabda maka
terciptalah para lelembut yang jumlahnya sangat banyak. Dan dikarenakan
para lelembut itu membutuhkan tempat, maka Sang Hyang Wening kemudian
menciptakan
Kahyangan Setra Ganda Layu yang letaknya ada di bawah dari Kahyangan Manik Maninten.
Setelah itu Sang Hyang Wening mengambil bagian dari Batara Ismaya dan disabda menjadi
Batari Kanestren yang kemudian menjadi
istri dari Batara Ismaya, juga kemudian mengambil bagian dari Batara Manik Maya dan disabda menjadi
Batari Uma yang kemudian menjadi
istri dari Batara Manik Maya.
Sedangkan Batara Antiga menjadi
wadat [tidak mempunyai pasangan] dikarenakan beliau terwujud dari cangkang telur, suatu bagian yang tidak dapat menjadi makhluk hidup.
Dari pasangan Batara Ismaya dengan Batari Kanestren dan Batara Manik
Maya dengan Batari Uma inilah awal terjadinya proses reproduksi atau
mempunyai keturunan.
Keturunan atau anak dari Batara Ismaya dengan Batari Kanestren adalah :
Batara Wungkuam, Batara Wrespati, Batara Yamadipati, Batara Surya, Batara Kuwera,
Batara Kamajaya, Batari Darmanastiti, Batara Hananta Boga, Batara Baruna,Batara Wisnu, dan Batara Platuk Temboro
Keturunan atau anak dari Batara Manik Maya dengan Batari Uma adalah :
Batara Sambo, Batara Brama, Batara Indra, dan Batara Bayu
Yang tinggal di Kahyangan Alang - Alang Kumitir :
- Sang Hyang Ogra Pesti
- Sang Hyang Bramana Wasesa
- Sang Hyang Toya Wasesa
- Sang Hyang Wiji Wasesa Jagad
- Sang Hyang Jagad Pramana
- Sang Hyang Wasesa Jagad Pramana
- Sang Hyang Jagad Kitaha
- Sang Hyang Atmana
- Sang Hyang Atmani
- Sang Hyang Arta Etu
- Sang Hyang Wilangan
- Sang Hyang Kasaha Etu Jagad
- Sang Hyang Tunggal
- Sang Hyang Wenang [Sang Hyang Podo Winenang]
- Sang Hyang Wening
Yang tinggal di Kahyangan Manik Maninten
- Sang Hyang Batara Antiga
- Sang Hyang Batara Ismaya + Sang Hyang Batari Kanestren
- Sang Hyang Batara Manik Maya + Sang Hyang Batari Uma
Kahyangan-nya para Batara dan Batari
Putra dari SH Batara Ismaya + SH Batari Kanestren
- Batara Wungkuam
- Batara Wrespati
- Batara Yamadipati
- Batara Surya
- Batara Kuwera
- Batara Kamajaya
- Batari Darmanastiti
- Batara Hananta Boga
- Batara Baruna
- Batara Wisnu
- Batara Platuk Temboro
Putra dari SH Batara Manik Maya + SH Batari Uma
- Batara Sambo
- Batara Brama
- Batara Indra
- Batara Bayu
Yang tinggal di Kahyangan Setra Ganda Layu :
- Drubiksa, brekasakan dkk
BAB II
Kelak kemudian Sang Hyang Wening menciptakan pasangan buat
putra-putri para Batara dan Batari itu dan menciptakan Kahyangan untuk
mereka yang letaknya di bawah Kahyangan Manik Maninten tetapi di atas
Kahyangan Setra Ganda Layu.
Lalu dari para Batara dan Batari itu lahirlah putra-putri mereka
yaitu para Dewa dan Dewi, kemudian dibuatkan oleh Sang Hyang Wening
Kahyangan untuk para Dewa-Dewi itu yang letaknya di bawah Kahyangan dari
para Batara-Batari dan di atas Kahyangan Setra Ganda Layu.
Para Dewa dan Dewi kemudian saling berpasangan dan lahirlah
putra-putri mereka yaitu paraWidadara dan Widadari, kemudian dibuatkan
oleh Sang Hyang Wening Kahyangan untuk para Widadara-Widadari itu yang
letaknya di bawah Kahyangan dari para Dewa-Dewi dan di atas Kahyangan
Setra Ganda Layu.
Para Widadara dan Widadari kemudian saling berpasangan dan lahirlah
putra-putri mereka yaitu paraHapsara dan Hapsari, kemudian dibuatkan
oleh Sang Hyang Wening Kahyangan untuk para Hapsara-Hapsari itu yang
letaknya di bawah Kahyangan dari para Widadara-Widadari dan di atas
Kahyangan Setra Ganda Layu. Para Hapsara dan Hapsari tinggal di
Kahyangan yang bernama Kahyangan Suralaya, mereka dikenal juga dengan
sebutan Dang Hyang atau Danyang.
Saat itu para penghuni di Kahyangan Setra Ganda Layu sudah terlalu
banyak, banyak lelembut dan drubiksa [raksasa] yang memang tidak
mengetahui nilai-nilai tataran mulai jahil dengan seenaknya mengunjungi
Kahyangan Suralaya maupun Kahyangan lainnya.
Hal itu yang kemudian membuat Sang Hyang Wening merencanakan untuk
mulai menggelar jagad raya, dengan menciptakan Sela Matangkep atau Pintu
Pengarip sebagai batasan dunia, jadi para penghuni Kahyangan Setra
Ganda Layu tidak dapat lagi dengan seenaknya naik ke Kahyangan Suralaya
dan Kahyangan-Kahyangan lain yang lebih tinggi.
Urut - urutan Kahyangan :
- Kahyangan Alang-Alang Kumitir
- Kahyangan Manik Maninten
- Kahyangan-nya para Batara dan Batari
- Kahyangan-nya para Dewa dan Dewi
- Kahyangan-nya para Widadara dan Widadari
- Kahyangan-nya para Hapsara dan Hapsari
- Sela Matangkep / Pintu Pengarip (Pintu Gerbangnya)
- Kahyangan Setra Ganda Layu
Atas sabda dari Sang Hyang Wening, kemudian diutuslah Sang Hyang
Batara Ismaya, Sang Hyang Batara Brama, Sang Hyang Batara Indra, Sang
Hyang Batara Surya, Sang Hyang Batari Ratih, Sang Hyang Batara Bayu,
Sang Hyang Batara Hananta Boga, Sang Hyang Batara Baruna dan Sang Hyang
Batara Wisnu untuk menciptakan tempat di luar Sela Matangkep.
Saat itulah baru terciptanya dunia, dimulai dengan adanya Bintang
yang diciptakan oleh Sang Hyang Batara Ismaya atau dikenal juga dengan
nama Sang Hyang Batara Kartika.
Sang Hyang Batara Brama bersama-sama dengan Sang Hyang Batara Hananta
Boga dan Sang Hyang Batara Wisnu menciptakan Bumi dan planet-planet
yang lain.
Bumi sendiri diciptakan awalnya dari sebuah gumpalan api yang dibuat
oleh Sang Hyang Batara Brama yang kemudian dilapisi oleh jangkar bumi
dan cangkang bumi oleh Sang Hyang Batara Hananta Boga dan Sang Hyang
Batara Surya memindahkan kaki Kahyangan Ekacakra mendekati Bumi yang
sekarang kita kenal dengan nama Matahari.
Kemudian Sang Hyang Batari Ratih juga memindahkan kaki Kahyangan
Cakra Kembang ke dekat Bumi yang kita kenal dengan nama Bulan, Sang
Hyang Batara Bayu menciptakan atmosfir serta Sang Hyang Batara Indra
menciptakan hujan. Bumi pada waktu itu masih panas karena belum ada
lautan.
Baru setelah itu diturunkanlah para lelembut dan drubiksa ke Bumi
atau Arcapada, akan tetapi ternyata setelah itu terjadi saling serang
antara mereka untuk memperebutkan wilayah yang mereka sukai. Sehingga
kemudian diturunkan juga para Hapsara dan Hapsari serta para Widadara
dan Widadari ke Arcapada untuk membuat hirarki di Arcapada agar terjadi
kestabilan dan keamanan di Arcapada.
Kemudian oleh Sang Hyang Wening diciptakanlah Dang Hyang penunggu Bumi :
- Untuk Jagad Wetan [timur] ditempati oleh Pecuk Pecu Kilan.
- Untuk Jagad Kulon [barat] ditempati oleh Cakrawangsa.
- Untuk Jagad Lor [utara] ditempati oleh Kaneka Putra.
- Untuk Jagad Kidul [selatan] belum terisi, tapi kemudian ditempati oleh Andana dan Andini.
- Untuk Jagad Awang-Awang [angkasa] dipercayakan kepada Garuda Yaksa Retna Peksi
- Jala Dara.
Setelah situasi di Arcapada cukup aman, baru kemudian oleh Batara-Batari yang ditugaskan [
tanpa Sang Hyang Hananta Boga] diciptakanlah tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan.
BAB III
Manusia Tercipta
Adalah Sang Hyang Batara
Brama yang pertama kali menciptakan
manusia,
diambil dari tanah dan dibuat dengan kepalan tangannya, karena Sang
Hyang Batara Brama adalah Dewa Api maka wujud manusia yang dibuat
terlalu
gosong, makanya kemudian disebut dengan
Bangsa Keling. Proses penciptaan manusia pertama itu terjadi di daratan Jawa di
Gunung Bromo,
dan manusia yang diciptakan saat itu suhunya sangat panas untuk tinggal
di dataran rendah sehingga mereka hanya dapat hidup di ketinggian yang
suhunya lebih dingin.
Kemudian Sang Hyang Batara
Wisnu juga menciptakan manusia dan terwujudlah sosok
manusia yang lebih baik dan sempurna [seperti manusia sekarang ini], kejadian itu masih di daratan Jawa di
Gunung Pawinihan [
sekarang Gunung Wilis].
Tetapi saat itu manusia ciptaan Sang Hyang Batara Wisnu kondisi suhunya
masih sama karena hanya mampu tinggal di tempat dingin. Manusia ciptaan
itu menjadi rebutan dari para Hapsara dan Hapsari untuk dimomong oleh
mereka.
Maka diaturlah agar manusia mempunyai keturunan dulu dan kemudian
anak-anak mereka langsung di bawa oleh para Hapsara dan Hapsari untuk
kemudian wajahnya dibentuk sesuai dengan wajah dari para Hapsara dan
Hapsari yang memomongnya. Hal ini dilakukan atas sabda dari Sang Hyang
Wening agar Arcapada dapat dipenuhi oleh manusia untuk keseimbangan alam
semesta.
Delapan Batara dan Batari yang ikut dalam proses penciptaan manusia
dan Prawita Sari [air suci keabadian], yaitu Sang Hyang Batara Ismaya,
Sang Hyang Batara Brama, Sang Hyang Batara Indra, Sang Hyang Batara
Surya, Sang Hyang Batari Ratih, Sang Hyang Batara Bayu, Sang Hyang
Batara Baruna dan Sang Hyang Batara Wisnu inilah yang disebut dengan
Hasta Brata, Hasta berarti delapan dan Brata berarti laku, watak, atau
sifat utama yang di ambil dari sifat alam.
- Sang Hyang Batara Ismaya/ Sang Hyang Batara Kartika mewakili sifat Bintang
- Sang Hyang Batara Brama mewakili sifat Api
- Sang Hyang Batara Indra mewakili sifat Langit/ Angkasa
- Sang Hyang Batara Surya mewakili sifat Matahari
- Sang Hyang Batari Ratih mewakili sifat Bulan
- Sang Hyang Batara Bayu mewakili sifat Angin
- Sang Hyang Batara Baruna mewakili sifat Air
- Sang Hyang Batara Wisnu mewakili sifat Bumi/ Tanah
Kemudian para Batara-Batari dan Dewa-Dewi turun ke bumi dan mulai
mengajarkan pola kehidupankepada umat manusia, hal itu dilakukan agar
manusia kemudian secara otomatis dan naluri akan mengajarkan kepada
keturunannya juga, sehingga tidak perlu setiap generasi berikutnya dari
keturunan manusia yang lahir, para Batara-Batari dan Dewa-Dewi harus
turun ke Arcapada untuk mengajarkan pola yang sama.
Beberapa pola kehidupan yang diajarkan kepada manusia itu antara lain :
- Sang Hyang Batara Brama mengajarkan kepada manusia bagaimana caranya membikin perkakas.
- Sang Hyang Batara Wisma Karma mengajarkan manusia cara membikin rumah tinggal.
- Sang Hyang Batara Iswara mengajarkan manusia cara berbicara dan manembah.
- Sang Hyang Batara Wisnu mengajarkan aturan antar manusia, aturan-aturan berkehidupan untuk tidak saling menjegal.
- Sang Hyang Batara Mahadewa mengajarkan manusia caranya membikin perhiasan dan
- pakaian.
- Sang Hyang Batara Cipta Gupta mengajarkan manusia caranya mengenal dan membuat
- warna-warni.
- dan lain-lain
Manusia-manusia awal yang tercipta di Arcapada ini baik yang di
Gunung Bromo maupun yang di Gunung Pawinihan dinamakan Bangsa Keling
dari kata 'kelingan' yang mengingatkan tentang awal penciptaan, struktur
komunal pertama manusia dinamakan Kerajaan Keling dengan Kraton-nya
berada di lereng Gunung Pawinihan yang dipimpin oleh Sang Maha Prabu
Radite yang dimomong oleh Sang Hyang Batara Wisnu.
Semua peristiwa sebagai bagian dari awal peradaban ini terjadi di
jaman sedang Kala Kukila pada jaman besar Kali Swara, di mana saat itu
belum diciptakan lautan dan putaran Bumi masih belum stabil.
Tri Loka Buwana
Sang Hyang Wening merasa sudah saatnya setelah jagad di gelar harus
ada hirarki keseluruhan untuk menata alam semesta ini. Untuk memimpin
jalannya kehidupan Alam Semesta akan dipilih seorang pimpinan yang
bergelar
Ratu Tri Loka Buwana [Tri = tiga, Loka =
tempat, Buwana = dunia] yang menguasai 3 dunia; Arcapada [Bumi, dunia di
mana manusia tinggal], Madyapada [dunia gaib], dan Mayapada [Kadewatan,
dunia luhur tempat mulai dari Hapsara-Hapsari sampai Batara-Batari].
Maka sebelum dipilih siapa yang layak untuk menjadi Ratu Tri Loka Buwana, Sang Hyang Wening mencipta
Kahyangan Jong Giri Saloka tempat
bakal Ratu Tri Loka Buwana menetap dan mengatur Alam Semesta. Kahyangan
Jong Giri Saloka ini terletak di bawah Kahyangan Alang- Alang Kumitir
dan di atas Kahyangan Manik Maninten.
Dua putra dari Sang Hyang Wening, yaitu Sang Hyang Batara Antiga dan
Sang Hyang Batara Ismaya sangat meminati posisi Ratu Tri Loka Buwana
tersebut, maka kemudian disepakatilah antar mereka berdua untuk adu
kesaktian guna menunjukkan siapakah yang lebih layak menjadi Ratu Tri
Loka Buwana.
Proses adu kesaktian itu adalah barang siapa yang dapat memakan atau
menelan Jamur Dwipa[bentuk gunung yang sangat besar] maka dialah yang
layak menjadi Ratu Tri Loka Buwana. Sang Hyang Batara Antiga menelan
Jamur Dwipa, tetapi gagal dan mulut dari Sang Hyang Batara Antiga malah
sobek, kemudian giliran Sang Hyang Batara Ismaya mencoba menelan Jamur
Dwipa, ternyata berhasil ditelan tetapi tidak dapat dimuntahkan kembali.
Pada saat itulah Sang Hyang Wening rawuh dan sangat tidak berkenan
dengan adu kesaktian yang dilakukan oleh Sang Hyang Batara Antiga dengan
Sang Hyang Batara Ismaya.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban dari apa yang telah mereka lakukan,
maka kemudian Sang Hyang Wening mengeluarkan sabda yang mengunci bentuk
mereka di mana kondisi mulut dari Sang Hyang Batara Antiga sobek dan
perut dari Sang Hyang Batara Ismaya membesar karena terisi Jamur Dwipa.
Dalam wujud seperti itulah maka Sang Hyang Batara Antiga juga dikenal
dengan nama Togog atau Ki Lurah Togog; sedang Sang Hyang Batara Ismaya
dikenal dengan nama Semar atau Ki Lurah Semar Badranaya.
Kemudian Sang Hyang Wening menunjuk Sang Hyang Batara Manik Maya yang
karena tidak ikut dalam adu kesaktian dan hanya menjadi penonton saja
itu menjadi Ratu Tri Loka Buwana. Sang Hyang Batara Manik Maya merasa
kegirangan apalagi dari antara tiga bersaudara Sang Hyang Batara Manik
Maya yang sekarang wajahnya paling tampan, karena kakak-kakaknya sudah
berubah wujud semua. Hal itu tak luput dari perhatian Sang Hyang Wening,
maka kemudian disabdalah wajah dari Sang Hyang Manik Maya menjadi buruk
rupa, sebagai penanda untuk tidak mempunyai sifat sombong hati.
Sebagai Ratu Tri Loka Buwana, Sang Hyang Batara Manik Maya kemudian
bergelar Sang Hyang Batara Guru, atau dikenal juga dengan nama Sang
Hyang Syiwa atau Sang Hyang Jagad Pratingkah. Kemudian Sang Hyang Batara
Guru bersama dengan Batari Uma menempati Kahyangan Jong Giri Saloka dan
bertugas sebagai Ratu Tri Loka Buwana.
Sang Hyang Wening kemudian menugaskan Ki Lurah Togog dan Ki Lurah Semar untuk menjadi pamomong bagi umat manusia di Arcapada.
Ki Lurah Togog menjadi pamomong umat manusia di belahan
Barat dan Utara dari Arcapada, sedangkan
Ki Lurah Semar menjadi pamomong untuk umat manusia di belahan
Timur dan Selatan dari Arcapada.
Karena mereka berdua masing-masing memerlukan teman dalam perjalanan
mereka menjadi pamomong di Arcapada, maka kemudian Ki Lurah Togog
menciptakan teman seperjalanannya yang bernama Sarawita atau dikenal
dengan nama lain
Bilung.Sedang Ki Lurah Semar juga menciptakan teman seperjalanan yang diambil dari bayangannya sendiri yang diberi nama
Bagong.
Berita tentang terpilihnya Sang Hyang Batara Manik Maya menjadi Ratu
Tri Loka Buwana ternyata membuat gerah para Dang Hyang penunggu Bumi,
mereka merasa bahwa Sang Hyang Batara Manik Maya tidak pantas menjadi
Ratu Tri Loka Buwana karena dianggap kalah wibawa dan kurang sakti dari
kakak-kakaknya. Para Dang Hyang penjuru Bumi merencanakan untuk
melakukan protes dengan mengadakan penyerbuan ke Kahyangan Jong Giri
Saloka.
Pertama kali yang menyerbu ke Kahyangan Jong Giri Saloka adalah
Kaneka Putra sang Dang Hyang Jagad Lor. Dalam perjalanannya ke Kahyangan
Jong Giri Saloka dan baru sampai di Sela Matangkep, Dang Hyang Jagad
Lor Kaneka Putra bertemu dengan rombongan Ki Lurah Semar bersama dengan
Bagong dan Ki Lurah Togog bersama dengan Sarawita yang akan turun ke
Arcapada untuk melaksanakan tugas sebagai pamomong umat manusia.
Terjadilah pertempuran sengit antara Ki Lurah Semar dengan Kaneka
Putra,akhirnya Kaneka Putra tunduk karena terkena Aji Kemayan dari Ki
Lurah Semar sehingga bentuknya menyerupai wujud pendek seperti yang
sekarang kita kenal.
Karena kepandaian dan kepintarannya dalam bertempur, maka oleh Ki
Lurah Semar, Dang Hyang Jagad Lor Kaneka Putra kemudian ditugaskan untuk
menjadi penasehat utama Kahyangan Jong Giri Saloka untuk mendampingi
Sang Hyang Batara Guru dalam mengelola Alam Semesta dan bergelar
Sang Hyang Batara Narada atau Resi Kaneka Putra.
Kemudian secara bersamaan naiklah Dang Hyang Jagad Wetan Pecuk Pecu
Kilan dan Dang Hyang Jagad Kulon Cakrawangsa untuk menyerbu Kahyangan
Jong Giri Saloka. Di Sela Matangkep, mereka bertemu dengan rombongan Ki
Lurah Semar dan rombongannya yang baru saja bertempur dengan Dang Hyang
Jagad Lor Kaneka Putra.
Oleh Ki Lurah Semar kedatangan kedua Dang Hyang Jagad itu disambut secepat
kilat dengan cara menjambak rambut Pecuk Pecu Kilan dan rambut
Cakrawangsa serta dibenturkan satu sama lain sehingga mereka berubah
wujud dan langsung tunduk kepada Ki Lurah Semar. Setelah berubah wujud,
Pecuk Pecu Kilan berubah nama menjadi
Petruk dan Cakrawangsa berubah nama menjadi
Gareng,
serta mereka berdua akan mengiringi kemanapun Ki Lurah Semar Badranaya
dan Bagong akan menempuh perjalanannya dalam memomong umat manusia di
belahan Timur dan Selatan Arcapada ini.
Dang Hyang kembar Jagad Kidul yaitu Andana dan Andini melakukan
penyerbuan pula ke Kahyangan Jong Giri Saloka, setelah melihat cara Ki
Lurah Semar menaklukkan Pecuk Pecu Kilan dan Cakrawangsa, Sang Hyang
Batara Guru melakukan hal yang sama pula kepada Andana dan Andini.
Begitu Andana dan Andini tiba di Kahyangan Jong Giri Saloka, maka
secepat kilat dibenturkanlah kepala dari Andana dan Andini sehingga
mereka langsung takluk. Oleh Sang Hyang Batara Guru, Andana dan Andini
kemudian disabda menjadi
Lembu Nandini dan menjadi Dampar Kencana Kahyangan Jong Giri Saloka.
Dang Hyang Awang-Awang yaitu Garuda Yaksa Retna Peksi Jala Dara juga
melakukan penyerbuan ke Kahyangan Jong Giri Saloka, tetapi di tengah
perjalanan dia bertemu dengan Sang Hyang Batara Wisnu. Terjadilah
pertempuran yang berakhir dengan tunduknya Garuda Yaksa Retna Peksi Jala
Dara kepada Sang Hyang Batara Wisnu, sejak saat itulah Garuda Yaksa
Retna Peksi Jala Dara dijadikan tunggangan dari Sang Hyang Batara Wisnu.
Setelah semua berjalan normal kembali, sebagai Ratu Tri Loka Buwana,
Sang Hyang Batara Guru kemudian membentuk beberapa formasi jagad baru,
dengan beliau sendiri sebagai Pusat :
- Sang Hyang Batara Syiwa di Pusat
- Sang Hyang Batara Brama di penjuru Selatan
- Sang Hyang Batara Wisnu di penjuru Utara
- Sang Hyang Batara Iswara di penjuru Timur
- Sang Hyang Batara Mahadewa di penjuru Barat
- Sang Hyang Batara Sambu di penjuru Timur Laut
- Sang Hyang Batara Maheswara di penjuru Tenggara
- Sang Hyang Batara Rodra di penjuru Barat Daya
- Sang Hyang Batara Sangkara di penjuru Barat Laut
Formasi ini dinamakan
Langlang Buwana atau
Pangider-ider Bumi atau
Dewa 9 Penjuru Jagad.
Juga kemudian ditunjuklah penanggung-jawab untuk 7 bagian lapisan Bumi.
- Eka Pratala atau Kerak Bumi di bawah kekuasaan Dewi Pertiwi
- Dwi Pratala di bawah kekuasaan Dewi Kusika
- Tri Pratala di bawah kekuasaan Dewi Gangga
- Catur Pratala di bawah kekuasaan Dewi Sindula
- Panca Pratala di bawah kekuasaan Dewi Danampalan
- Sad Pratala di bawah kekuasaan Batari Manikem
- Sapta Pratala atau Inti Bumi di bawah kekuasaan Sang Hyang Batara Hananta Boga
Struktur Jagad Raya setelah adanya Ratu Tri Loka Buwana:
- Kahyangan Alang-Alang Kumitir
- Kahyangan Jong Giri Saloka
- Kahyangan Manik Maninten
- Kahyangan-nya para Batara dan Batari
- Kahyangan-nya para Dewa dan Dewi
- Kahyangan-nya para Widadara dan Widadari
- Kahyangan-nya para Hapsara dan Hapsari
- Sela Matangkep / Pintu Pengarip
- Kahyangan Setra Ganda Layu
- Bumi / Arcapada
(C) TURANGGA SETA - Oleh Agung Bimo Sutedjo dan Timmy Hartadi.