Kamis, 23 Februari 2012

Peternak, Bukanlah Profesi Hina!

“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu terdapat pelajaran yang penting bagi kamu. Kami memberi minum kamu dari air susu yang ada di dalam perutnya,dan (juga) pada binatang itu terdapat manfaat yang banyak untuk kamu, dan sebagian dari padanya kamu makan”. (QS. Al Mukminun: 21)
produk utama ternak (susu, daging, telur dan madu) merupakan bahan pangan hewani yang memiliki gizi tinggi dan dibutuhkan manusia untuk hidup sehat, cerdas, kreatif dan produktif. Selain itu, ternak merupakan sumber pendapatan, sebagai tabungan hidup, tenaga kerja pengolah lahan, alat transportasi, penghasil biogas, pupuk organik dan sebagai hewan kesayangan. Oleh karena itu, tak heran bila Profesor I.K. Han, Guru Besar Ilmu Produksi Ternak Universitas Nasional Seoul (1999) menyebutkan pentingnya peran ternak dalam peningkatan kualitas hidup manusia.
  • Sebagai sumber daging : al-haj 21;28
  • Sumber susu : al-muminun 23;21 “dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benra-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu, kami memberi minum kamu dai susu yang ada dalam perutnya, dan juga pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu, dan sebahagian dari padanya kamu makan.”
  • Sumber tenaga kerja : 40;79 “ Allahlah yang menjadikan binatang ternak untuk kamu, sebagianya untuk kamukendarai dan sebagianya untuk kamu makan.”
  • Sebagai sumber obat : 16;69 “ kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan yang telah dimudahkannya (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya didalamnya terdapat obat yang menyembuhkannya bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benat-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.”
  • Yang dilarang dimakan : terdapat pada surat 6:145 , babi, bangkai hewan dan hewan yang disembeli tanpa izn kepada Allah swt.
Ilmu peternakan merupakan ilmu terapan yang disebut secara eksplisit di dalam Al Quran. Bahkan beberapa nama hewan ternak dijadikan sebagai nama surat di dalam Al Quran, misalnya :
  1. sapi betina (Al Baqarah),
  2. hewan ternak (Al An’am), dan
  3. ternak lebah (An Nahl).
Banyak ayat Al Quran yang secara eksplisit menyebut nama-nama hewan ternak, misalnya :
  1. ternak sapi (QS. 2: 67-71, 73; QS Yusuf: 43),
  2. unta (QS. Al An’am:144; Al Hajj: 27, 37; QS. Al Ghasiyah:17),
  3. domba (QS. Al An’am:143, 146; QS. An Nahl: 80),
  4. kambing (QS. Al An’am: 143, An Nahl: 78, Shad: 23-24),
  5. unggas (QS. 2: 260; 3: 49; 5: 110; 6: 38; 16: 79; 23: 41; 27: 16; 67: 19),
  6. kuda (QS. 3: 14; 8: 60; 16: 8; 38: 31; 100: 1) dan
  7. lebah (QS. 16: 68-69).
Bahkan ternak telah lama akrab dalam kehidupan kaum Muslimin, baik dalam pelaksanaan ibadah (zakat, kurban) maupun manfaatnya yang multi guna dalam kehidupan.
Hewan ternak merupakan sumber pelajaran yang penting di alam karena terdapat banyak hikmah dalam penciptaannya. Lihatlah bagaimana Allah memberikan kemampuan pada ternak ruminansia (sapi, kambing, domba dan kerbau) yang mampu mengubah rumput (hijauan) menjadi daging dan susu. Atau kemampuan yang dimiliki lebah madu dalam mengubah cairan nektar tanaman menjadi madu yang bermanfaat dan berkhasiat obat bagi manusia (QS. An Nahl [16]: 68-69). Sedemikian besarnya peran usaha peternakan dalam kehidupan, maka sudah pada tempatnya sub sektor ini mendapat perhatian kaum Muslimin, termasuk melakukan penelitian dan pengembangan produk peternakan yang bersumber pada Al Quran dan Al Hadits.


Peternak, Bukanlah Profesi Hina!

“Semua Nabi pernah menggembala kambing”, kata Rasulullah saw. dalam suatu perbincangan dengan para Sahabat. Seorang Sahabat bertanya, “Engkau sendiri bagaimana, ya Rasul?”. “Aku pernah menggembala kambing,” jawab Nabi. Dialog singkat tersebut mengisyaratkan bahwa menjadi peternak (penggembala ternak) adalah profesi yang pernah dilakukan para nabi. Bahkan, banyak penulis sirrah nabawi menjelaskan bahwa ketika berusia muda, Nabi Muhammad saw. adalah seorang penggembala kambing yang terampil. Beberapa riwayat menjelaskan, Nabi yang mulia itu sering memerah susu ternak domba piaraannya untuk konsumsi keluarga beliau.
Profesi sebagai peternak sapi juga pernah dilakukan Nabi Musa alaihissalam selama delapan tahun, sebagai mahar atas pernikahannya dengan anak perempuan Nabi Syuaib alaihissalam. Sebelumnya, Habil, putra nabi Adam alaihissalam juga mengurbankan kambing unggul miliknya. Kurban Habil pun diterima Allah swt.

sembilan naga indonesia

Sembilan Naga, Gengster Legendaris Asal Indonesia

Sunday, February 19, 2012


Mylinekerr - DI dunia remang-remang, nama “Gang of Nine” menjadi legenda. Dibekingi Keluarga Cendana dan petinggi militer, segala sepak terjangnya hampir tak tersentuh. Taipan Tommy Winata-bersama Sugianto Kusuma alias Aguan-disebut-sebut sebagai godfather-nya. Bisnis mereka terentang dari properti hingga judi, dari obat terlarang hingga otomotif.

Benarkah? Dalam wawancara dengan TEMPO, Tommy membantah keras seluruh keterlibatannya di situ. Malah, “Gua baru dengar (nama kelompok itu) sekarang,” katanya. Tapi sejumlah sumber, termasuk mantan preman dan bandar judi Anton Medan, mempercayai keberadaannya. Isi perut “Geng Sembilan” berikut ini dirinci berdasarkan keterangan mereka.
Kecuali Tommy dan Yorrys, yang juga membantah, beberapa nama yang ada di sini tidak dapat dikontak oleh TEMPO.

* Tommy Winata
Mengendalikan Bank Artha Graha, yang dulu bernama Bank Propelat, milik Kodam Siliwangi. Bank Artha Graha adalah pilar utama kerajaan bisnis Tommy: Grup Artha Graha.



* Sugianto Kusuma (Aguan)
Nama ini mulai dikenal orang ketika pada 1970-an terlibat penyelundupan barang elektronik via Palembang. Dialah yang memperkenalkan Tommy Winata dengan Angkatan Darat atau Yayasan Kartika Eka Paksi semasa Jenderal Edi Sudradjat menjabat Kepala Staf Angkatan Darat. “Pak Aguan adalah senior saya,” kata Tommy, “Beberapa keputusan bisnis yang penting selalu saya konsultasikan padanya.

* Yorrys T. Raweyai (Thung Hok Liong)
Ketua Umum Pemuda Pancasila ini bertindak sebagai “panglima” yang mengamankan seluruh operasi jaringan ini di lapangan.

* Arief Prihatna (Cocong)
Menurut sumber TEMPO dan Anton Medan, di bidang ini Arief merupakan pemain lama (sejak 1975) urusan memasukan barang lewat pintu belakang. Ia bergabung dengan Tommy sekitar 1985 dan punya jaringan luas di kalangan militer. Seorang mantan karyawati di perusahaan Cocong mengaku bagaimana dia secara rutin mengirimkan “upeti” berupa barang elektronik ke kalangan tentara dan polisi Tak mengherankan, ia mulus memasukkan mobil mewah, barang elektronik, serta obat tradisional (Cina) dari Singapura, Thailand, Taiwan, dan Hong Kong. Arie Sigit (cucu Soeharto) pernah memimpin konsorsium importir obat tradisional ini.

* Edi “Porkas” Winata
Kepada TEMPO, Tommy mengaku kenal baik tokoh ini. Imbuhan nama di tengah muncul karena reputasinya sebagai bandar judi Porkas (perusahaan milik Sigit Hardjojudanto, seperti disebut pula oleh majalah Time pekan lalu). Dia dikenal sebagai “tangan kanan” Tommy dalam bisnis ini. Menurut Anton Medan, beberapa nama berada di bawah lindungan Tommy pula.
Di Jakarta, menurut sebuah sumber, pusat operasi mereka-lewat permainan mickey mouse, rolet, bakarat, black jack, dan lain-lain-adalah Pertokoan Duta Merlin, Jalan Ketapang, dan Jalan Kartini. Belakangan, pusat operasi itu dipindahkan ke Jalan Kunir di kawasan Kota, yang kini dikenal sebagai markas “Konsorsium Judi Indonesia”-jelas bukan nama organisasi resmi-dengan Edi sebagai pemimpinnya.

* Kwee Haryadi Kumala (A Sie)
Bersama kakaknya, Cahyadi Kumala (Sui Teng), Haryadi adalah spesialis pembebasan tanah. Anton Medan juga menyebut keterlibatan Teddy Hwat dan Robert Kardinal (saudara Yorrys) dalam urusan tanah ini. Di sektor ini mereka banyak bekerja sama dengan Bambang Trihatmodjo, misalnya di Jonggol dan Sentul. Bahkan, menurut Anton dan sumber TEMPO, beberapa aset Cendana saat ini telah dialihkan ke Tommy Winata: Jonggol (3.200 hektare), Cikarang (5.000 hektare), Sawangan, Sentul, Cikampek, dan perkebunan kelapa sawit di Sumatra Utara (25.000 hektare).

* Arie Sigit
Arie mengenal Tommy lewat pamannya, Bambang Tri. Arie-menurut sumber TEMPO-punya bisnis sampingan menarik, misalnya ekstasi, dengan omzet ratusan miliar per bulan. Tapi, dalam sebuah wawancara dengan majalah Panji beberapa waktu lalu, Arie membantah isu ini dengan tegas. Namun, sebuah sumber menjelaskan bahwa jaringan bisnis itu meliputi Bandung, Medan, Jawa Tengah, Yogya, Surabaya, dan Bali, selain Malaysia dan Australia.
Pemasok utama “komoditas” ini adalah Hong Lie, buron yang dikaitkan dengan pembunuhan Nyo Beng Seng. Hong Lie sekarang bermukim di Hong Kong. Menurut seorang sumber, salah satu lokasi “perakitan” barang terlarang ini, di Tangerang, pernah digerebek polisi pada 1998 lalu, tapi kasusnya lalu dipetieskan.

* Iwan Cahyadi Karsa (Eng Tiong)
Melalui PT Sumber Auto Graha (SAG), belum lama ini Iwan membeli 14 ribu unit mobil Timor. Menurut Anton dan sumber lainnya, SAG memperjualbelikan mobil mewah completely built-up yang diselundupkan Arief Cocong.

* Johnny Kesuma
Melalui PT Artha Graha Investama, dia adalah orang kepercayaan Tommy di bidang investasi. Johnny adalah adik Aguan. Semula ia mengendalikan PT Amcol Graha Industries, yang pernah memegang lisensi manufaktur Sony. Menurut sumber TEMPO, saat ini ia dicekal. Sebelumnya, ia lebih banyak tinggal di Singapura. Saham Graha Investama juga dimiliki oleh Bakti Investama (dulu milik Mamiek Soeharto).

Jaringan Sembilan Naga menembus berbagai daerah di Indonesia. Upeti untuk pejabat militer, kepolisian, atau pemda, membuat bisnis ini kian kuat. Jarum jam sudah bergerak ke angka 01.00 WIB, Sabtu dini hari. Malam pun kian larut dan menebar hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum. Namun, beberapa sudut Kota Jakarta tetap saja "panas" dan berdenyut. Sebuah siklus sosial yang tetap hidup. Jakarta memang tak pernah "mati" dari kehidupan malam, terutama bagi mereka yang doyan dengan dunia hiburan dan perjudian.

Datanglah ke Kabuki, Hotel Prinsen Park, Kawasan Lokasari di Jakarta Barat. Lalu, Pelangi dan Raja Kota di Jalan Hayam Wuruk, termasuk Raja Mas di Kawasan Glodok, Jakarta Barat. Siapa pun bisa gambling dan mengadu nasib di tempat usaha milik Rudi atau kalangan penjudi sering memanggilnya dengan sebutan Rudi Raja Mas. Cukup dengan menitipkan Rp 1 juta di pintu masuk sebagai deposit, pengunjung bisa terlibat dalam kegiatan di dalam. Pernah menonton film God of Gamblers? Persis begitulah suasana di dalamnya. Ada puluhan meja rolet, kasino, dan ratusan mesin mickey mouse. Puluhan pekerja, dan ada juga puluhan penjaga berbadan tegap dengan rambut potongan cepak. Kabarnya, dari tiga lokasi perjudian itu, Rudi bisa menyedot Rp 5 miliar dana segar per malam. Hitung saja kalau di dikalikan 30 hari. Maka, tak kurang dari Rp 150 miliar per bulan. Hatta, berjudi bukanlah hal yang sulit di Jakarta.

Riwayatnnya memang sudah ada sejak zaman Belanda. Setelah Gubernur Ali Sadikin mengeluarkan izin judi pada pertengahan tahun 1967, berlombalah orang membuka bisnis yang menurut ajaran agama tergolong haram jadah. Ketika itu para penjudi alias junket sudah menghambur-hamburkan rupiah di beberapa lokasi perjudian. Misalnya di Petak IX, Copacobana, Jakarta Theatre, dan Lofto Fair Hailal. Muncullah beberapa pengusaha Indonesia keturunan Cina yang jadi primadona di bisnis ini. Sebut saja Yan Darmadi. Semasa Gubernur Ali Sadikin, Yan berhasil meraup Rp 1,5 miliar. Selain memiliki saham di empat lokasi perjudian tadi, Yan juga disebut-sebut membuka kasino di Surabaya pada tahun 1980. Konon, seperempat penerimaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Buaya itu berasal dari Yan Darmadi. Tapi, kondisi tersebut tak lama bertahan. Setahun kemudian (1981), Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo mencabut kembali izin tersebut. Toh, jaringan mafia judi di Jakarta bukannya terputus, melainkan malah meluas ke seluruh Indonesia dalam konfigurasi Sembilan Naga. Jaringan ini mirip dengan Triad di Hong Kong dan Makau. Merekalah yang menguasai dan mengatur lokasi perjudian. Mereka membentuk satuan "pengamanan" yang mengikutsertakan jasa centeng amatir sampai jenderal profesional. Kini ada sedikitnya 44 lokasi perjudian di Jakarta (lihat tabel). Mulai dari kelas kakap hingga kelas teri. Dari yang terbuka, seperti toto gelap (togel), sampai yang tertutup (kasino dan rolet). Semua itu bertebaran di setiap sudut Jakarta. Sementara kota-kota besar lainnya, seperti Medan, Riau, Palembang, Bandung, Semarang, Surabaya dan Manado, juga tak kalah gesit. Menurut mantan raja judi Anton Medan, tempat bermain judi terbesar di Jakarta kini ada di Gedung ITC Mangga Dua, Jakarta Barat. Di situ, beberapa bandar besar seperti Tomy Winata, Engsan, Yasmin, Chandra dan David berkolaborasi membangun usaha dan jaringan. Baik untuk wilayah Jakarta maupun seluruh Indonesia. Termasuk pengaturan upeti bagi sejumlah oknum pejabat tinggi TNI, Polri, Pemda DKI, ormas pemuda dan kemasyarakatan, serta wartawan. Dari lokasi itu, para bandar bisa meraup Rp 10 miliar-Rp 15 miliar per malam. Setelah dipotong modal pemilik saham, sisanya di bagikan ke seluruh jaringan pengamanan tadi. Ada yang per sepuluh hari, per bulan, atau per minggu. Untuk Jakarta, ada sejumlah nama dan kawasan perjudian potensial yang bisa disebut sebagai jaringan "Sembilan Naga" tadi. Selain Tomy Winata, Engsan, Yasmin dan David, masih ada Apow, pemilik rumah judi mickey mouse (MM) di Pancoran (Glodok), Jalan Boulevard (Kelapa Gading), Kasturi di Mangga Besar, Ruko Blok A di Green Garden serta di Jalan Kejayaan, Jakarta Barat. Nah, dari tiga lokasi itu, ia minimal meraup Rp 2 miliar setiap malam. Di beberapa lokasi lain, Apow juga membangun jaringan usaha sejenis dengan Juhua dan Ali Oan di Asemka, Jakarta Barat, serta di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat.
Setingkat Apow, ada Rudi Raja Mas. Nah, taipan ini tergolong hoki. Lokasi kasino, rolet serta MM-nya terletak di Stadium dan Pelangi di Kawasan Hayam Wuruk. Kabuki Hotel Prinsen Park di Lokasari, Jakarta Barat, serta di Jalan Kunir, Jakarta Utara, termasuk yang di Pulau Ayer, juga mulai membawa keuntungan besar baginya. Kabarnya, dari semua itu, ia bisa menarik Rp 10 miliar per malam. Rudi tak sendirian. Untuk usaha di Pulau Ayer misalnya, ia menggaet Haston, Arief, Cocong, Edi P. dan Umar. Sementara untuk lokasi di kompleks perjudian kawasan Taman Sari, Jakarta Barat, Rudi bekerja sama dengan Tomy Winata, Arief, dan Cocong. Dibandingkan dengan lokasi perjudian lain di Jakarta, gedung berlantai dua di Jalan Kunir I ini relatif agak sulit ditembus, terutama bagi mereka yang belum akrab dengan "kaki tangan" pemilik lokasi itu. Selain ditutup dengan pagar seng, tempat usaha itu juga dikawal puluhan tukang pukul. Nah, dari sejumlah lokasi perjudian yang ditelusuri FORUM, permainan kasino memang relatif banyak diminati penjudi. Permainan ini menggunakan piringan berlubang-lubang kecil yang dapat diputar dan dilengkapi dengan sebuah bola kecil. Setiap pemain memasang koin di meja berangka 0-38, yang terbagi dalam tiga bagian berdasarkan kelipatan bayarannya. Bagi pemilik koin yang angkanya sama dengan tempat bola, ialah sang pemenang. Selain jaringan "Sembilan Naga" yang bermarkas di Jakarta tadi, di pentas judi nasional ada beberapa nama lainnya yang juga termasuk dalam jaringan tersebut. Misalnya Wang Ang (Bandung), Pepen (Manado), Dedi Handoko (Batam, Tanjung Pinang dan sekitarnya), Jhoni F. (Surabaya), Olo Panggabean (Medan dan Aceh), dan Firman (Semarang). "Mereka inilah yang menguasai jaringan mafia judi di beberapa titik di Indonesia. Bahkan, kabarnya sudah masuk dalam jaringan mafia judi Hong Kong dan Singapura," kata sumber FORUM di Markas Besar Polri. Pasar Atom, Andika Plaza, dan Darmo Park merupakan daerah perjudian elite di Kota Surabaya. Jenisnya kasino dan bola tangkas. Tapi, tak semua orang bisa masuk ke arena itu karena dijaga ekstra ketat. Salah satunya dengan memakai sistem "kartu anggota".

Selain Jhoni F., kabarnya YE alias W, yang dulu tak aktif, kini kambuh lagi. Malah, ia kembali menjalin hubungan dengan Rudi Raja Mas dan Chandra di Jakarta. Rata-rata per bulannya, omzet yang masuk minimal mencapai Rp 5 miliar. Sementara di beberapa kota besar di Sumatra, seperti Medan, Pekanbaru, Palembang dan Jambi, judi buntut sudah beroperasi selama puluhan tahun tanpa hambatan berarti dari aparat keamanan. Di Medan, misalnya, bisnis yang paling terkenal adalah kupon togel Singapura serta permainan judi KIM yang dikelola Olo Panggabean. Mereka mengedarkan kupon-kupon melalui agen setiap Senin, Kamis, Sabtu dan Minggu. Dalam sekali putaran, Olo kabarnya menerima bersih sekitar Rp 2 miliar.

Operasi mereka berjalan lancar-lancar saja. Kalau pun ada gertakan dari pemerintah, biasanya tak lama kemudian akan "aman" lagi. Pernah sekali waktu, para bandar judi sempat kaget ketika pada Mei 2000, Preiden Abdurrahman Wahid--waktu itu masih berkuasa--menuding Tomy Winata sebagai dalang judi di atas kapal pesiar. Namun belakangan tudingan itu ditarik melalui Jaksa Agung Marzuki Darusman. Pemilik kapal itu, kata Marzuki, adalah Rudi Susanto. Ialah kabarnya yang menggelar perjudian di atas kapal pesiar di lepas pantai teluk Jakarta yang menghebohkan itu. Sumber FORUM menyebutkan, sekali berlabuh, usaha Rudi Susanto tadi bisa mencetak duit sedikitnya Rp 500 miliar bersih. Sayangnya, banjir rupiah yang didapat para bandar judi seperti Rudi Susanto dan kawan-kawannya, jarang sekali disimpan di Indonesia.

"Setelah itu, mereka beli dolar dan langsung mentransfer ke salah satu bank asing di luar negeri," kata sumber FORUM di Bursa Efek Jakarta. Maraknya praktek perjudian di Indonesia tentu tak terlepas dari sebuah riwayat hitam bangsa ini. Apiang Jinggo alias Yan Darmadi adalah pemilik Peta Sembilan dan Kopabana, dan boleh dibilang sebagai raja judi pertama (era Orde Lama). Apiang memang sempat berkibar beberapa tahun, saat Ali Sadikin melegalkan judi di Jakarta. Namun, setelah keluar kebijakan pemerintah yang melarang judi, bisnisnya kabarnya sempoyongan. Tapi, kondisi itu tak berlangsung lama. Meski ada larangan, operasi bawah tanah tetap saja jalan. Nah, generasi kedua, diwarisi Robert Siantar dan Abah.

Sedangkan Sie Hong Lie, Liem Engsan alias Hasan, Apyang alias Atang Latif, serta mendiang Nyo Beng Seng alias Darmansyah, termasuk Anton Medan sendiri, adalah generasi ketiga. "Waktu itu saya menguasai tujuh lokasi di Jakarta. Sisanya di Batam, Jambi dan Medan," kata Anton Medan. Sedangkan Tomy Winata, Rudi Raja Mas, dan sederet nama lainnya tadi adalah pewaris generasi keempat. Di luar nama-nama tadi, masih ada tokoh lain yang beroperasi sampai ke mancanegara. Sebut saja Sie Hong Lie, ia memiliki usaha judi Lotere Phom Penh di Kamboja. Juga peternakan, pacuan kuda, serta bukit timah di Singapura dan Penang, Malaysia. Selain itu, ia memiliki dua kapal pesiar, Delfin Star dan Lido Star, yang bermarkas di Singapura.

Ada lagi nama Apyang, selain mengelola judi di Chrismast Island, Australia, bersama Robby Sumampouw, ia juga membuka bank, properti, dan hotel di Jakarta. Sementara mendiang Nyo Beng Seng punya jaringan judi di Genting Highland (Malaysia), Las Vegas (AS), Macau dan Perth, Australia. Usaha di Indonesia adalah perusahaan rekaman Irama Tara. Mengapa mereka bisa begitu aman dan kuat?

Menurut Anton Medan, semua itu tak terlepas dari jaringan pengamanan alias beking yang dibangun. Biasanya, setiap pergantian pucuk pemimpin TNI, Polri atau Gubernur DKI, para gembong itu kerap mencari jalan masuk sebagai partner. Maklum sajalah, sebagai pemimpin, tentu mereka membutuhkan dana operasional yang tak sedikit. Nah, pundi yang paling aman dan sulit terlacak adalah dari sektor 303 ini.

Uang yang mirip-mirip dana nonbudgeter bagi para pemimpin TNI, Polri, Pemda DKI, tokoh ormas dan OKP, termasuk wartawan, itu justru ada di bandar 303 ini. Akses ke para petinggi itu tidaklah sulit. Sebab, begitu ada sinyal mau dipromosikan sebagai salah satu petinggi, para bandar itu langsung mengirimkan kurir sebagai salam perkenalan. Hubungan itu terus terjalin secara alamiah pula. "Makanya, mustahil kalau ada jenderal yang bilang tak pernah makan duit judi," kata Anton. Upeti yang disalurkan juga tergolong tak sedikit.

Untuk oknum perwira tinggi TNI dan Polri misalnya, perbulan Rp 15 miliar. Sementara setingkat di bawahnya Rp 10 miliar. Turun ke bawahnya lagi, Rp 5 miliar. Begitulah seterusnya. "Itu belum termasuk permohonan bantuan dalam bentuk barang seperti mobil dan komputer," ujar sumber di Mabes Polri. Begitu juga dengan pejabat tinggi di Pemda DKI Jakarta. Masih menurut Anton, upetinya bisa Rp 10 miliar per bulan. Sementara Ketua OKP dan ormas, berkisar Rp 200-500 juta per bulan. "Yang berat itu kan dari kalangan aparat. Mulai dari Polsek dan Koramil hingga jenderal. Dana operasionalnya lumayan besar," kata salah seorang bandar kepada FORUM. Makanya, unjuk rasa masyarakat antijudi tak pernah disambut selayaknya. Maka jangan pernah mimpi, masalah judi tuntas.

Jumat, 17 Februari 2012

JAGAD GUMELAR

JAGAD GUMELAR

(C) TURANGGA SETA - Oleh Agung Bimo Sutedjo dan Timmy Hartadi
Source lengkap ada di : www.lakubecik.org
Awalnya Kahyangan 

BAB I

Pada awalnya, saat Alam Semesta ini masih suwung [kosong], belum ada kehidupan, tidak ada bintang, tidak ada planet-planet, dan tidak ada unsur apapun, hanya terdapat sebuah sosok yang bernama Sang Hyang Ogra Pesti, wujud Beliau tidak kelihatan karena diselimuti oleh cahaya yang sangat berkilau.

-Sang Hyang Ogra Pesti yang tak lain adalah Sang Maha Pencipta,
kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Bramana Wasesa.

-Sang Hyang Bramana Wasesa,
kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Toya Wasesa.

-Sang Hyang Toya Wasesa,
kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Wiji Wasesa Jagad.

-Sang Hyang Wiji Wasesa Jagad,
kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Jagad Pramana.

-Sang Hyang Jagad Pramana,
kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Wasesa Jagad Pramana.

-Sang Hyang Wasesa Jagad Pramana,
kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Jagad Kitaha.

-Sang Hyang Jagad Kitaha,
kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Atmana.

-Sang Hyang Atmana,
kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Atmani.

-Sang Hyang Atmani,
kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Arta Etu.

-Sang Hyang Arta Etu,
kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Wilangan.

-Sang Hyang Wilangan,
kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Kasaha Etu Jagad.

-Sang Hyang Kasaha Etu Jagad,
kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Tunggal.

-Sang Hyang Tunggal,
kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Wenang atau yang dikenal juga
dengan nama Sang Hyang Podo Winenang.

-Sang Hyang Wenang,
kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Wening.


Berturut-turut dari Sang Hyang Ogra Pesti yang berputra Sang Hyang Bramana Wasesa sampai ke Sang Hyang Wening, semuanya tinggal di Kahyangan Alang-Alang Kumitir.

Sang Hyang Wening atas seijin dari sang rama yaitu Sang Hyang Wenang kemudian menciptakan Kahyangan Manik Maninten yang letaknya di bawah Kahyangan Alang-Alang Kumitir dan juga menciptakan sebuah telur. Kemudian telur diremas dan pecah menjadi 3 bagian, dan semua bagian melayang-layang.

Bagian pertama adalah kulit atau cangkang telur yang walaupun remuk dan retak-retak tetapi tetap melayang-layang, begitu juga bagian isi yaitu putih telur dan kuning telur, akan tetapi pada awalnya bagian putih telur dan kuning telur masih menyatu dan tersambung.

Kemudian oleh Sang Hyang Wening, bagian cangkang telur disabda menjadi sosok yang bernama Batara Antiga atau nama lainnya adalah Teja Mantri. Setelah itu putih telur dan kuning telur dipisah oleh Sang Hyang Wening, dari putih telur disabda menjadi sosok yang bernama Batara Ismaya sedangkan bagian kuning telur yang masih melayang-layang kemudian ditangkap dan disabda menjadi sosok yang bernama Batara Manik Maya.

Ketiganya, yaitu Batara Antiga, Batara Ismaya dan Batara Manik Maya berparas sangat tampan dan tinggal rukun di Kahyangan Manik Maninten dan setelah itu Sang Hyang Wening kembali ke Kahyangan Alang-Alang Kumitir.

Batara Antiga adalah Dewa yang pertama kali mencoba untuk keluar dari Kahyangan Manik Maninten dan mencoba meniru kebisaan dari Sang Hyang Wening dengan melakukan berbagai sabda, karena kesalahan sabda maka terciptalah para lelembut yang jumlahnya sangat banyak. Dan dikarenakan para lelembut itu membutuhkan tempat, maka Sang Hyang Wening kemudian menciptakan Kahyangan Setra Ganda Layu yang letaknya ada di bawah dari Kahyangan Manik Maninten.

Setelah itu Sang Hyang Wening mengambil bagian dari Batara Ismaya dan disabda menjadi Batari Kanestren yang kemudian menjadi istri dari Batara Ismaya, juga kemudian mengambil bagian dari Batara Manik Maya dan disabda menjadi Batari Uma yang kemudian menjadi istri dari Batara Manik Maya.

Sedangkan Batara Antiga menjadi wadat [tidak mempunyai pasangan] dikarenakan beliau terwujud dari cangkang telur, suatu bagian yang tidak dapat menjadi makhluk hidup.

Dari pasangan Batara Ismaya dengan Batari Kanestren dan Batara Manik Maya dengan Batari Uma inilah awal terjadinya proses reproduksi atau mempunyai keturunan.

Keturunan atau anak dari Batara Ismaya dengan Batari Kanestren adalah :

Batara Wungkuam, Batara Wrespati, Batara Yamadipati, Batara Surya, Batara Kuwera,
Batara Kamajaya, Batari Darmanastiti, Batara Hananta Boga, Batara Baruna,Batara Wisnu, dan Batara Platuk Temboro

Keturunan atau anak dari Batara Manik Maya dengan Batari Uma adalah :

Batara Sambo, Batara Brama, Batara Indra, dan Batara Bayu


Yang tinggal di Kahyangan Alang - Alang Kumitir :

  1. Sang Hyang Ogra Pesti
  2. Sang Hyang Bramana Wasesa
  3. Sang Hyang Toya Wasesa
  4. Sang Hyang Wiji Wasesa Jagad
  5. Sang Hyang Jagad Pramana
  6. Sang Hyang Wasesa Jagad Pramana
  7. Sang Hyang Jagad Kitaha
  8. Sang Hyang Atmana
  9. Sang Hyang Atmani
  10. Sang Hyang Arta Etu
  11. Sang Hyang Wilangan
  12. Sang Hyang Kasaha Etu Jagad
  13. Sang Hyang Tunggal
  14. Sang Hyang Wenang [Sang Hyang Podo Winenang]
  15. Sang Hyang Wening

Yang tinggal di Kahyangan Manik Maninten

  1. Sang Hyang Batara Antiga
  2. Sang Hyang Batara Ismaya + Sang Hyang Batari Kanestren
  3. Sang Hyang Batara Manik Maya + Sang Hyang Batari Uma

Kahyangan-nya para Batara dan Batari

Putra dari SH Batara Ismaya + SH Batari Kanestren

  1. Batara Wungkuam
  2. Batara Wrespati
  3. Batara Yamadipati
  4. Batara Surya
  5. Batara Kuwera
  6. Batara Kamajaya
  7. Batari Darmanastiti
  8. Batara Hananta Boga
  9. Batara Baruna
  10. Batara Wisnu
  11. Batara Platuk Temboro


Putra dari SH Batara Manik Maya + SH Batari Uma

  1. Batara Sambo
  2. Batara Brama
  3. Batara Indra
  4. Batara Bayu


Yang tinggal di Kahyangan Setra Ganda Layu :
  1. Drubiksa, brekasakan dkk

BAB II

Kelak kemudian Sang Hyang Wening menciptakan pasangan buat putra-putri para Batara dan Batari itu dan menciptakan Kahyangan untuk mereka yang letaknya di bawah Kahyangan Manik Maninten tetapi di atas Kahyangan Setra Ganda Layu.

Lalu dari para Batara dan Batari itu lahirlah putra-putri mereka yaitu para Dewa dan Dewi, kemudian dibuatkan oleh Sang Hyang Wening Kahyangan untuk para Dewa-Dewi itu yang letaknya di bawah Kahyangan dari para Batara-Batari dan di atas Kahyangan Setra Ganda Layu.

Para Dewa dan Dewi kemudian saling berpasangan dan lahirlah putra-putri mereka yaitu paraWidadara dan Widadari, kemudian dibuatkan oleh Sang Hyang Wening Kahyangan untuk para Widadara-Widadari itu yang letaknya di bawah Kahyangan dari para Dewa-Dewi dan di atas Kahyangan Setra Ganda Layu.

Para Widadara dan Widadari kemudian saling berpasangan dan lahirlah putra-putri mereka yaitu paraHapsara dan Hapsari, kemudian dibuatkan oleh Sang Hyang Wening Kahyangan untuk para Hapsara-Hapsari itu yang letaknya di bawah Kahyangan dari para Widadara-Widadari dan di atas Kahyangan Setra Ganda Layu. Para Hapsara dan Hapsari tinggal di Kahyangan yang bernama Kahyangan Suralaya, mereka dikenal juga dengan sebutan Dang Hyang atau Danyang.

Saat itu para penghuni di Kahyangan Setra Ganda Layu sudah terlalu banyak, banyak lelembut dan drubiksa [raksasa] yang memang tidak mengetahui nilai-nilai tataran mulai jahil dengan seenaknya mengunjungi Kahyangan Suralaya maupun Kahyangan lainnya.

Hal itu yang kemudian membuat Sang Hyang Wening merencanakan untuk mulai menggelar jagad raya, dengan menciptakan Sela Matangkep atau Pintu Pengarip sebagai batasan dunia, jadi para penghuni Kahyangan Setra Ganda Layu tidak dapat lagi dengan seenaknya naik ke Kahyangan Suralaya dan Kahyangan-Kahyangan lain yang lebih tinggi.


Urut - urutan Kahyangan :

  1. Kahyangan Alang-Alang Kumitir
  2. Kahyangan Manik Maninten
  3. Kahyangan-nya para Batara dan Batari
  4. Kahyangan-nya para Dewa dan Dewi
  5. Kahyangan-nya para Widadara dan Widadari
  6. Kahyangan-nya para Hapsara dan Hapsari
  7.  Sela Matangkep / Pintu Pengarip (Pintu Gerbangnya)
  8.  Kahyangan Setra Ganda Layu


Atas sabda dari Sang Hyang Wening, kemudian diutuslah Sang Hyang Batara Ismaya, Sang Hyang Batara Brama, Sang Hyang Batara Indra, Sang Hyang Batara Surya, Sang Hyang Batari Ratih, Sang Hyang Batara Bayu, Sang Hyang Batara Hananta Boga, Sang Hyang Batara Baruna dan Sang Hyang Batara Wisnu untuk menciptakan tempat di luar Sela Matangkep.

Saat itulah baru terciptanya dunia, dimulai dengan adanya Bintang yang diciptakan oleh Sang Hyang Batara Ismaya atau dikenal juga dengan nama Sang Hyang Batara Kartika.

Sang Hyang Batara Brama bersama-sama dengan Sang Hyang Batara Hananta Boga dan Sang Hyang Batara Wisnu menciptakan Bumi dan planet-planet yang lain.

Bumi sendiri diciptakan awalnya dari sebuah gumpalan api yang dibuat oleh Sang Hyang Batara Brama yang kemudian dilapisi oleh jangkar bumi dan cangkang bumi oleh Sang Hyang Batara Hananta Boga dan Sang Hyang Batara Surya memindahkan kaki Kahyangan Ekacakra mendekati Bumi yang sekarang kita kenal dengan nama Matahari.

Kemudian Sang Hyang Batari Ratih juga memindahkan kaki Kahyangan Cakra Kembang ke dekat Bumi yang kita kenal dengan nama Bulan, Sang Hyang Batara Bayu menciptakan atmosfir serta Sang Hyang Batara Indra menciptakan hujan. Bumi pada waktu itu masih panas karena belum ada lautan.

Baru setelah itu diturunkanlah para lelembut dan drubiksa ke Bumi atau Arcapada, akan tetapi ternyata setelah itu terjadi saling serang antara mereka untuk memperebutkan wilayah yang mereka sukai. Sehingga kemudian diturunkan juga para Hapsara dan Hapsari serta para Widadara dan Widadari ke Arcapada untuk membuat hirarki di Arcapada agar terjadi kestabilan dan keamanan di Arcapada.


Kemudian oleh Sang Hyang Wening diciptakanlah Dang Hyang penunggu Bumi :
  • Untuk Jagad Wetan [timur] ditempati oleh Pecuk Pecu Kilan.
  • Untuk Jagad Kulon [barat] ditempati oleh Cakrawangsa.
  • Untuk Jagad Lor [utara] ditempati oleh Kaneka Putra.
  • Untuk Jagad Kidul [selatan] belum terisi, tapi kemudian ditempati oleh Andana dan Andini.
  • Untuk Jagad Awang-Awang [angkasa] dipercayakan kepada Garuda Yaksa Retna Peksi
  • Jala Dara.

Setelah situasi di Arcapada cukup aman, baru kemudian oleh Batara-Batari yang ditugaskan [tanpa Sang Hyang Hananta Boga] diciptakanlah tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan.

 BAB III

Manusia Tercipta

Adalah Sang Hyang Batara Brama yang pertama kali menciptakan manusia, diambil dari tanah dan dibuat dengan kepalan tangannya, karena Sang Hyang Batara Brama adalah Dewa Api maka wujud manusia yang dibuat terlalu gosong, makanya kemudian disebut dengan Bangsa Keling. Proses penciptaan manusia pertama itu terjadi di daratan Jawa di Gunung Bromo, dan manusia yang diciptakan saat itu suhunya sangat panas untuk tinggal di dataran rendah sehingga mereka hanya dapat hidup di ketinggian yang suhunya lebih dingin.

Kemudian Sang Hyang Batara Wisnu juga menciptakan manusia dan terwujudlah sosok manusia yang lebih baik dan sempurna [seperti manusia sekarang ini], kejadian itu masih di daratan Jawa di Gunung Pawinihan [sekarang Gunung Wilis]. Tetapi saat itu manusia ciptaan Sang Hyang Batara Wisnu kondisi suhunya masih sama karena hanya mampu tinggal di tempat dingin. Manusia ciptaan itu menjadi rebutan dari para Hapsara dan Hapsari untuk dimomong oleh mereka.

Maka diaturlah agar manusia mempunyai keturunan dulu dan kemudian anak-anak mereka langsung di bawa oleh para Hapsara dan Hapsari untuk kemudian wajahnya dibentuk sesuai dengan wajah dari para Hapsara dan Hapsari yang memomongnya. Hal ini dilakukan atas sabda dari Sang Hyang Wening agar Arcapada dapat dipenuhi oleh manusia untuk keseimbangan alam semesta.

Delapan Batara dan Batari yang ikut dalam proses penciptaan manusia dan Prawita Sari [air suci keabadian], yaitu Sang Hyang Batara Ismaya, Sang Hyang Batara Brama, Sang Hyang Batara Indra, Sang Hyang Batara Surya, Sang Hyang Batari Ratih, Sang Hyang Batara Bayu, Sang Hyang Batara Baruna dan Sang Hyang Batara Wisnu inilah yang disebut dengan Hasta Brata, Hasta berarti delapan dan Brata berarti laku, watak, atau sifat utama yang di ambil dari sifat alam.

  1. Sang Hyang Batara Ismaya/ Sang Hyang Batara Kartika mewakili sifat Bintang
  2. Sang Hyang Batara Brama mewakili sifat Api
  3. Sang Hyang Batara Indra mewakili sifat Langit/ Angkasa
  4. Sang Hyang Batara Surya mewakili sifat Matahari
  5. Sang Hyang Batari Ratih mewakili sifat Bulan
  6. Sang Hyang Batara Bayu mewakili sifat Angin
  7. Sang Hyang Batara Baruna mewakili sifat Air
  8. Sang Hyang Batara Wisnu mewakili sifat Bumi/ Tanah

Kemudian para Batara-Batari dan Dewa-Dewi turun ke bumi dan mulai mengajarkan pola kehidupankepada umat manusia, hal itu dilakukan agar manusia kemudian secara otomatis dan naluri akan mengajarkan kepada keturunannya juga, sehingga tidak perlu setiap generasi berikutnya dari keturunan manusia yang lahir, para Batara-Batari dan Dewa-Dewi harus turun ke Arcapada untuk mengajarkan pola yang sama.

Beberapa pola kehidupan yang diajarkan kepada manusia itu antara lain :
  • Sang Hyang Batara Brama mengajarkan kepada manusia bagaimana caranya membikin perkakas.
  • Sang Hyang Batara Wisma Karma mengajarkan manusia cara membikin rumah tinggal.
  • Sang Hyang Batara Iswara mengajarkan manusia cara berbicara dan manembah.
  • Sang Hyang Batara Wisnu mengajarkan aturan antar manusia, aturan-aturan berkehidupan untuk tidak saling menjegal.
  • Sang Hyang Batara Mahadewa mengajarkan manusia caranya membikin perhiasan dan
  • pakaian.
  • Sang Hyang Batara Cipta Gupta mengajarkan manusia caranya mengenal dan membuat
  • warna-warni.
  • dan lain-lain

Manusia-manusia awal yang tercipta di Arcapada ini baik yang di Gunung Bromo maupun yang di Gunung Pawinihan dinamakan Bangsa Keling dari kata 'kelingan' yang mengingatkan tentang awal penciptaan, struktur komunal pertama manusia dinamakan Kerajaan Keling dengan Kraton-nya berada di lereng Gunung Pawinihan yang dipimpin oleh Sang Maha Prabu Radite yang dimomong oleh Sang Hyang Batara Wisnu.

Semua peristiwa sebagai bagian dari awal peradaban ini terjadi di jaman sedang Kala Kukila pada jaman besar Kali Swara, di mana saat itu belum diciptakan lautan dan putaran Bumi masih belum stabil.

Tri Loka Buwana

Sang Hyang Wening merasa sudah saatnya setelah jagad di gelar harus ada hirarki keseluruhan untuk menata alam semesta ini. Untuk memimpin jalannya kehidupan Alam Semesta akan dipilih seorang pimpinan yang bergelar Ratu Tri Loka Buwana [Tri = tiga, Loka = tempat, Buwana = dunia] yang menguasai 3 dunia; Arcapada [Bumi, dunia di mana manusia tinggal], Madyapada [dunia gaib], dan Mayapada [Kadewatan, dunia luhur tempat mulai dari Hapsara-Hapsari sampai Batara-Batari].

Maka sebelum dipilih siapa yang layak untuk menjadi Ratu Tri Loka Buwana, Sang Hyang Wening mencipta Kahyangan Jong Giri Saloka tempat bakal Ratu Tri Loka Buwana menetap dan mengatur Alam Semesta. Kahyangan Jong Giri Saloka ini terletak di bawah Kahyangan Alang- Alang Kumitir dan di atas Kahyangan Manik Maninten.

Dua putra dari Sang Hyang Wening, yaitu Sang Hyang Batara Antiga dan Sang Hyang Batara Ismaya sangat meminati posisi Ratu Tri Loka Buwana tersebut, maka kemudian disepakatilah antar mereka berdua untuk adu kesaktian guna menunjukkan siapakah yang lebih layak menjadi Ratu Tri Loka Buwana.

Proses adu kesaktian itu adalah barang siapa yang dapat memakan atau menelan Jamur Dwipa[bentuk gunung yang sangat besar] maka dialah yang layak menjadi Ratu Tri Loka Buwana. Sang Hyang Batara Antiga menelan Jamur Dwipa, tetapi gagal dan mulut dari Sang Hyang Batara Antiga malah sobek, kemudian giliran Sang Hyang Batara Ismaya mencoba menelan Jamur Dwipa, ternyata berhasil ditelan tetapi tidak dapat dimuntahkan kembali. Pada saat itulah Sang Hyang Wening rawuh dan sangat tidak berkenan dengan adu kesaktian yang dilakukan oleh Sang Hyang Batara Antiga dengan Sang Hyang Batara Ismaya.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban dari apa yang telah mereka lakukan, maka kemudian Sang Hyang Wening mengeluarkan sabda yang mengunci bentuk mereka di mana kondisi mulut dari Sang Hyang Batara Antiga sobek dan perut dari Sang Hyang Batara Ismaya membesar karena terisi Jamur Dwipa. Dalam wujud seperti itulah maka Sang Hyang Batara Antiga juga dikenal dengan nama Togog atau Ki Lurah Togog; sedang Sang Hyang Batara Ismaya dikenal dengan nama Semar atau Ki Lurah Semar Badranaya.

Kemudian Sang Hyang Wening menunjuk Sang Hyang Batara Manik Maya yang karena tidak ikut dalam adu kesaktian dan hanya menjadi penonton saja itu menjadi Ratu Tri Loka Buwana. Sang Hyang Batara Manik Maya merasa kegirangan apalagi dari antara tiga bersaudara Sang Hyang Batara Manik Maya yang sekarang wajahnya paling tampan, karena kakak-kakaknya sudah berubah wujud semua. Hal itu tak luput dari perhatian Sang Hyang Wening, maka kemudian disabdalah wajah dari Sang Hyang Manik Maya menjadi buruk rupa, sebagai penanda untuk tidak mempunyai sifat sombong hati.

Sebagai Ratu Tri Loka Buwana, Sang Hyang Batara Manik Maya kemudian bergelar Sang Hyang Batara Guru, atau dikenal juga dengan nama Sang Hyang Syiwa atau Sang Hyang Jagad Pratingkah. Kemudian Sang Hyang Batara Guru bersama dengan Batari Uma menempati Kahyangan Jong Giri Saloka dan bertugas sebagai Ratu Tri Loka Buwana.

Sang Hyang Wening kemudian menugaskan Ki Lurah Togog dan Ki Lurah Semar untuk menjadi pamomong bagi umat manusia di Arcapada. Ki Lurah Togog menjadi pamomong umat manusia di belahan Barat dan Utara dari Arcapada, sedangkan Ki Lurah Semar menjadi pamomong untuk umat manusia di belahan Timur dan Selatan dari Arcapada.

Karena mereka berdua masing-masing memerlukan teman dalam perjalanan mereka menjadi pamomong di Arcapada, maka kemudian Ki Lurah Togog menciptakan teman seperjalanannya yang bernama Sarawita atau dikenal dengan nama lain Bilung.Sedang Ki Lurah Semar juga menciptakan teman seperjalanan yang diambil dari bayangannya sendiri yang diberi nama Bagong.

Berita tentang terpilihnya Sang Hyang Batara Manik Maya menjadi Ratu Tri Loka Buwana ternyata membuat gerah para Dang Hyang penunggu Bumi, mereka merasa bahwa Sang Hyang Batara Manik Maya tidak pantas menjadi Ratu Tri Loka Buwana karena dianggap kalah wibawa dan kurang sakti dari kakak-kakaknya. Para Dang Hyang penjuru Bumi merencanakan untuk melakukan protes dengan mengadakan penyerbuan ke Kahyangan Jong Giri Saloka.

Pertama kali yang menyerbu ke Kahyangan Jong Giri Saloka adalah Kaneka Putra sang Dang Hyang Jagad Lor. Dalam perjalanannya ke Kahyangan Jong Giri Saloka dan baru sampai di Sela Matangkep, Dang Hyang Jagad Lor Kaneka Putra bertemu dengan rombongan Ki Lurah Semar bersama dengan Bagong dan Ki Lurah Togog bersama dengan Sarawita yang akan turun ke Arcapada untuk melaksanakan tugas sebagai pamomong umat manusia. Terjadilah pertempuran sengit antara Ki Lurah Semar dengan Kaneka Putra,akhirnya Kaneka Putra tunduk karena terkena Aji Kemayan dari Ki Lurah Semar sehingga bentuknya menyerupai wujud pendek seperti yang sekarang kita kenal.


Karena kepandaian dan kepintarannya dalam bertempur, maka oleh Ki Lurah Semar, Dang Hyang Jagad Lor Kaneka Putra kemudian ditugaskan untuk menjadi penasehat utama Kahyangan Jong Giri Saloka untuk mendampingi Sang Hyang Batara Guru dalam mengelola Alam Semesta dan bergelar Sang Hyang Batara Narada atau Resi Kaneka Putra.

Kemudian secara bersamaan naiklah Dang Hyang Jagad Wetan Pecuk Pecu Kilan dan Dang Hyang Jagad Kulon Cakrawangsa untuk menyerbu Kahyangan Jong Giri Saloka. Di Sela Matangkep, mereka bertemu dengan rombongan Ki Lurah Semar dan rombongannya yang baru saja bertempur dengan Dang Hyang Jagad Lor Kaneka Putra.

Oleh Ki Lurah Semar kedatangan kedua Dang Hyang Jagad itu disambut secepat
kilat dengan cara menjambak rambut Pecuk Pecu Kilan dan rambut Cakrawangsa serta dibenturkan satu sama lain sehingga mereka berubah wujud dan langsung tunduk kepada Ki Lurah Semar. Setelah berubah wujud, Pecuk Pecu Kilan berubah nama menjadi Petruk dan Cakrawangsa berubah nama menjadi Gareng, serta mereka berdua akan mengiringi kemanapun Ki Lurah Semar Badranaya dan Bagong akan menempuh perjalanannya dalam memomong umat manusia di belahan Timur dan Selatan Arcapada ini.

Dang Hyang kembar Jagad Kidul yaitu Andana dan Andini melakukan penyerbuan pula ke Kahyangan Jong Giri Saloka, setelah melihat cara Ki Lurah Semar menaklukkan Pecuk Pecu Kilan dan Cakrawangsa, Sang Hyang Batara Guru melakukan hal yang sama pula kepada Andana dan Andini. Begitu Andana dan Andini tiba di Kahyangan Jong Giri Saloka, maka secepat kilat dibenturkanlah kepala dari Andana dan Andini sehingga mereka langsung takluk. Oleh Sang Hyang Batara Guru, Andana dan Andini kemudian disabda menjadi Lembu Nandini dan menjadi Dampar Kencana Kahyangan Jong Giri Saloka.

Dang Hyang Awang-Awang yaitu Garuda Yaksa Retna Peksi Jala Dara juga melakukan penyerbuan ke Kahyangan Jong Giri Saloka, tetapi di tengah perjalanan dia bertemu dengan Sang Hyang Batara Wisnu. Terjadilah pertempuran yang berakhir dengan tunduknya Garuda Yaksa Retna Peksi Jala Dara kepada Sang Hyang Batara Wisnu, sejak saat itulah Garuda Yaksa Retna Peksi Jala Dara dijadikan tunggangan dari Sang Hyang Batara Wisnu.

Setelah semua berjalan normal kembali, sebagai Ratu Tri Loka Buwana, Sang Hyang Batara Guru kemudian membentuk beberapa formasi jagad baru, dengan beliau sendiri sebagai Pusat :

  1. Sang Hyang Batara Syiwa di Pusat
  2. Sang Hyang Batara Brama di penjuru Selatan
  3. Sang Hyang Batara Wisnu di penjuru Utara
  4. Sang Hyang Batara Iswara di penjuru Timur
  5. Sang Hyang Batara Mahadewa di penjuru Barat
  6. Sang Hyang Batara Sambu di penjuru Timur Laut
  7. Sang Hyang Batara Maheswara di penjuru Tenggara
  8. Sang Hyang Batara Rodra di penjuru Barat Daya
  9. Sang Hyang Batara Sangkara di penjuru Barat Laut
Formasi ini dinamakan Langlang Buwana atau Pangider-ider Bumi atau Dewa 9 Penjuru Jagad.

Juga kemudian ditunjuklah penanggung-jawab untuk 7 bagian lapisan Bumi.

  1. Eka Pratala atau Kerak Bumi di bawah kekuasaan Dewi Pertiwi
  2. Dwi Pratala di bawah kekuasaan Dewi Kusika
  3. Tri Pratala di bawah kekuasaan Dewi Gangga
  4. Catur Pratala di bawah kekuasaan Dewi Sindula
  5. Panca Pratala di bawah kekuasaan Dewi Danampalan
  6. Sad Pratala di bawah kekuasaan Batari Manikem
  7. Sapta Pratala atau Inti Bumi di bawah kekuasaan Sang Hyang Batara Hananta Boga

Struktur Jagad Raya setelah adanya Ratu Tri Loka Buwana:

  1. Kahyangan Alang-Alang Kumitir
  2. Kahyangan Jong Giri Saloka
  3.  Kahyangan Manik Maninten
  4. Kahyangan-nya para Batara dan Batari
  5. Kahyangan-nya para Dewa dan Dewi
  6. Kahyangan-nya para Widadara dan Widadari
  7. Kahyangan-nya para Hapsara dan Hapsari
  8. Sela Matangkep / Pintu Pengarip
  9.  Kahyangan Setra Ganda Layu
  10.  Bumi / Arcapada
(C) TURANGGA SETA - Oleh Agung Bimo Sutedjo dan Timmy Hartadi.
Paringkelan dan Pasaran

Dalam kehidupan masyarakat Jawa pada jaman dahulu terdapat banyak macam sistem perhitungan hari. Sistem tersebut diantaranya adalah Paringkelan (memiliki 6 hari dalam satu siklus = Sadwara) dan Pasaran (memiliki 5 hari dalam satu siklus = Pancawara).

Kedua jenis penanggalan ini yang paling memiliki dampak sosial bermasyarakat karena sistem paringkelan memuat kapan saat yang tepat bagi manusia untuk melakukan aktivitas dan pasaran menyatakan kapan sebuah pasar bisa diselenggarakan.

Paringkelan terdiri atas :

  1. Tunglé (daun) memandu masyarakat dalam memelihara / berbisnis tanaman pertanian
  2. Aryang (manusia) untuk kegiatan sosial bermasyarakat
  3. Wurukung (hewan ternak/rajakaya) fokus untuk usaha peternakan termasuk dalam pemasaran ternak rajakaya (kerbau, sapi, kuda, kambing, domba)
  4. Paningron (ikan air tawar) fokus dalam pemeliharaan dan bisnis ikan
  5. Uwas (unggas) fokus pada usaha peternakan unggas
  6. Mawulu (benih) fokus pada penanaman
Bagi masyarakat Nuswantara yang agraris, panduan dalam paringkelan sangat diperlukan. Hal ini bukan berarti semua orang berbondong-bondong harus melakukan hal yang sama di masing - masing hari tersebut. Melainkan hanya sebagai "saran" apa yang sebaiknya dilakukan.

Coba kita lihat, pada masing - masing hari terdapat kekhususan. Ada untuk keperluan bertani dan beternak, serta ada satu hari khusus untuk kegiatan sosial kemasyarakatan.

Dengan demikian interaksi antar manusia lebih terarah. Para pedagang, petani, dan peternak memiliki hari masing2 untuk memasarkan komoditasnya. Tidak ada monopoli oleh kelompok tertentu. Setiap orang memiliki hak-nya untuk berkegiatan ekonomi yang dijamin oleh pembagian hari tersebut.

Penanggalan yang kedua adalah Pasaran, yang terdiri atas :

  1. Kliwon
  2. Pon
  3. Wage
  4. Pahing
  5. Legi
Daerah yang besar (Ibukota / Kutharaja) sebagai pusat perekonomian akan memiliki hari pasaran Kliwon untuk membuka / menyelenggarakan aktivitas jual beli. Nah di keempat daerah (wewengkon)yang mengelilinginya akan memiliki masing - masing satu hari pasarannya sendiri. Hal ini berarti dalam setiap hari pasaran, akan ada arus manusia dan barang menuju ke masing masing titik. Pada pasaran Kliwon, semua orang akan berbondong - bondong menuju ke pusat kota. Pada hari pasaran yang lain, semua orang akan berbondong - bondong menuju daerah diselenggarakannya pusat jual beli di pinggiran kota.

Dengan demikian kegiatan ekonomi akan menyebar rata ke seluruh wilayah dan tidak dimonopoli oleh wilayah tertentu sehingga perkembangan masing - masing wilayah akan merata. Coba perhatikan peta Jawa dan amati letak pasar - pasar tradisional yang masih memiliki nama aslinya (Pasar Kliwon, Pasar Wage, dsb), ternyata sistem pasaran ini akan sambung menyambung seperti membentuk rantai dengan wilayah / daerah tetangga. Makin jelas pula bahwa sistem pasaran ini adalah usaha pemerataan ekonomi agar tidak terpusat di satu tempat dan mengakibatkan daerah lain tidak berkembang.

sejarah cerita Gunung Srandil

Konon selain Puncak Gunung Mahameru, Gunung Srandil juga dipercaya merupakan “Pancering Bumi” tempat pijakan pertama ke bumi atau jalan utama menapaki Kahyangan menuju dunia.

Gunung Srandil adalah sebuah bukit karang yang berada di pesisir Pantai laut Selatan di desa Glempang Pasir Kecamatan Adipala, Cilacap. Gunung Srandil dapat dicapai dari kota Kroya, dan kota Adipala.

Gunung Srandil diyakini merupakan petilasan Kaki Semar (kaki=kakek) dan Pangreh Gaib (Pangreh=penguasa), dan juga berfungsi sebagai Padepokan dari Kaki Semar dan para Pangreh Gaib lainnya yang berkenan bersemayam disana.

Kaki Semar terkenal dengan dhawuh-nya mengenai bagaimana menjalani hidup sebaiknya berpedoman kepada “Ojo dumeh, eling lan waspodo” atau “ jangan mentang-mentang, ingat dan waspada”. Dipercaya Srandi berasal dari kata Suro lan adil

Apabila memasuki Gunung Srandil maka letak petilasan-petilasan tersebut di Kompleks Gunung Srandil dengan searah jarum jam, urut-urutan petilasan adalah sbb

Petilasan Syech Jambu Karang atau disebut juga petilasan Dampo Awang atau Sam Poo Kong, disebut juga Eyang Jambu Karang karna disamping petilasan itu berdiri dan tumbuh pohon jambu yang entah sejak kapan pohon itu tumbuh karena sejak dulu hingga sekarang pohon itu berdiri dan tetap sebesar itu.

Petilasan Eyang atau Mbah Gusti Agung Heru Cokro Prabu atau Syech Baribin. Tempat ini pada hari-hari biasa banyak dipakai sebagai tempat meditasi oleh orang-orang yang datang dengan keperluan tertentu karena diyakini bahwa tempat ini sebagai tempat berkumpulnya para gaib Bumi Nusantoro

Petilasan Eyang Sukma Sejati, letaknya sedikit agak diluar gunung, kira-kira 50 meter disebelah kiri gunung, didepan petilasan Eyang Gusti Agung terdapat pintu keluar menuju petilasan tersebut melalui jalan setapak.

Petilasan Nini Dewi Tunjung Sekarsari, dari pemahaman spritual maka Nini Dewi Tunjung Sekarsari adalah istri dari Kaki Semar.

Petilasan Kaki Tunggul Sabdo Jati Doyo Among Rogo atau disebut juga petilasan Kaki Semar. Bagi para spritualis atau mereka yang diberi kesempatan untuk melihat “penjaga” goa Kaki, maka goa Kaki ini dijaga oleh Eyang Kumbang Ali-Ali dan Eyang Sadipa.

Di puncak Gunung Srandil terdapat petilasan Eyang Lalnglang Buwana dan Eyang Mayangkoro. Bagi para spritualis dengan berdasar penjelasan Kaki Semar maka tempat ini diyakini sebagai tempat “kadewatan”nya Kaki Semar

Disekitar Gunung Srandil, masih banyak terdapat petilasan-petilasan lain seperti Petilasan Eyang Kumoloyekti, Petilasan Eyang Wuruh Galih, Petilasan Argo Puyuh, Petilasan Eyang Paku Jati dll.

Dari penjelasan diatas maka tidak akan ditemukan sejengkal tanahpun di Gunung Srandil yang dinyatakan secara tegas, jelas dan lugas oleh para Juru Kunci, yang dapat dipakai untuk sesuatu dan lain hal yang sifatnya menduakan Tuhan dan atau klenik dan atau untuk jalan pintas “Pesugihan”. Sejatinya, urusan klenik atau pesugihan dan lain-lain sejenis, lebih disebabkan dan lebih dimulai dari niat dan tekad hati dari seseorang pemalas yang tidak mau berusaha sesuai kodratnya manusia hidup, yang telah buta dan telah tertutup hati nuraninya olehmasalah duniawi, kemudian mengambil “jalan pintas” dengan cara bersekutu dengan setan penggoda hati dan pengobar nafsu duniawi.

Pada waktu melakukan ziarah atau perjalanan spritual di Gunung Srandil, bila seseorang bermalam disitu maka salah satu acara ritual yang dilakukan adalah mengitari atau memutari Gunung Srandil setelah lepas tengah malam yaitu antara jam 24.00 atau pukul 00.00 sampai pada pukul 03.00 pagi.

Mengitari G Srandil menurut petunjuk Kaki Semar, disarankan untuk dilakukan dengan berjalan berlawanan dengan arah jarum jam, hal ini dimaksudkan bahwa sewaktu melakukan pengitaran tsb diharapkan dapat berpapasan dengan poro Pangreh Gaib dan dengan berpapasan tsb karena peziarah melafalkan kata-kata suci atau doa permohonan maka para Pangreh Gaib itupun ikut mendengarkan, maka “mereka” para Pangreh Gaib itupun akan ikut membantu apa-apa yang diucapkan untuk disampaikan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar permohonan atau kata-kata yang diucapkan para peziarah tersebut segera dapat dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa

Jumlah putaran mengitari gunung dengan berjalan berlawanan dengan arah jarum jam yang disarankan sesuai petunjuk adalah berjumlah angka ganjil misalnya 3x, 9x, 21x dan atau 41x putaran.

Untuk melengkapi acara ziarah, maka disarankan untuk membawa kembang-telon, dupa atau kemenyan madu, minyak wangi, namun ini bukan syarat mutlak dan hal ini jangan diartikan bahwa sarana tersebut itu adalah untul sesuatu yang bersifat tahayul tetapi lebih diartikan bahwa kita datang ke tempat suci, dan setiap tempat suci itu berbau harum mewangi dan sarana yang dibawa itu agar tempat tersebut semakin harum mewangi.

Daya tarik Gunung Srandil memang tidak dapat dipisahkan dengan “keberadaan” atau kasunyatan dari Kaki Semar atau Kaki Tunggul Sabdo jati Doyo Amongrogo dengan piwulang atau wewarah atau dhawuh-dhawuhnya untuk manusia agar selalu hidup dengan berbudi pekerti yang luhur, berbakti dan menjunjung tinggi Gusti Kang Murbeng Dumadi Tuhan Yang Maha Esa

Sebelum memasuki kompleks Gunung Srandil terdapat Padepokan Agung Mandalagiri dibangun oleh Paguyuban Cahya Buwana, yaitu perkumpulan putro wayah Kaki Semar. Padepokan ini dipakai sebagai tempat pertemuan para putro setiap malam Jumat Kliwon untuk mendengarkan dhawuh atau wewarah dari Kaki Semar. Padepokan ini juga berfungsi sebagai tempat bermalam seadanya tanpa dipungut bayaran satu senpun.Begitu bro/girl ceritanya....:D

Mohon maaf bila ada kesalahan karena itu datangnya dari saya pribadi dan yang benar adalah milik Tuhan YME semata.

Rahayu Rahayu Rahayu

Disamping wisata alam dan budaya juga terdapat wisata spiritual atau religius antara lain di gunung srandil dan selok .
Gunung srandil merupakan salah satu bukit yang ada di Glempangpasir Kecamatan Adipala jarak antara obyek wisata dengan Kota Cilacap 30 Km kearah timurlaut dan relatif mudah ditempuh dengan kendaraan penumpang bus umum jurusan Cilacap-Jatijajar-Kebumen atau kendaraan pribadi karena jalannya sudah beraspal dan dekat dengan jalan lintas selatan-selatan.

Gunung Srandil setiap hari dikunjungi orang untuk berziarah oleh karena tempat tersebut tidak hanya dikenal oleh masyarakat sekitar saja tetapi sampai keluar Jawa seperti Sumatra, Kalimantan, Bali. dan Sulawesi, maka yang berkunjung tujuannya bermacam-macam. Para peziarah biasanya berkunjung atau bertapa pada Malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon pada Bulan Syura.

Konon menurut cerita penghuni pertama Gunung Srandil adalah Sultan Mukhriti putra kedua dari Dewi Sari Banon Ratu Sumenep Jawa Timur .
Kedatangan Sultan itu untuk bertapa namun Sultan Mukhriti murca (menghilang) yang ada tinggal petilasannya yang terletak di sebelah timur yang di kenal dengan Embah Gusti Agung Sultan Mukhriti.
Selain itu juga ada legenda rakyat yang pertama bermukim di gunung Srandil adalah dua orang bernama Kunci Sari dan Dana Sari, mereka adalah prajurit Pangeran Diponegoro yang tidak mau menyerah kepada bala tentara Belanda. Mereka melarikan diri ke Gunung Srandil untuk bersembunyi dan meninggal di sini . Makam kedua prajurit tersebut berada di sebelah timur Gunung Srandil dalam satu komplek yang dipagar keliling yang kemudian hari, Kunci Sari dikenal dengan nama Sukma Sejati

Di Gunung Srandil banyak petilasan orang-orang yang dianggap mempunyai kedigdayaan yang linuwih atau kemampuan melebihi orang lain yang dikenal sebagai tokoh- tokoh orang sakti mandraguna. Dari kemampuannya, kesaktiannya itu maka tempat-tempat yang di singgahi dianggap keramat dan disakralkan.

Adapun petilasan-petilasan yang ada di Gunung Srandil adalah Mbah Kanjeng Gusti Agung, Nyai Dewi Tanjung Sekarsari, Kaki semar Tunggul Sabdojati Dayo amongrogo, Juragan Dampo Awang, Kanjeng Gusti Agung Akhmat atau Petilasan Langlang Buwana yang berada diatas bukit dan petilasan Hyang Sukma Sejati.

Layanan informasi Srandil dan Selok :
Dinas Pariwisata Kab. Cilacap Telp. 0282-534481

Lucunya para punggawa negeri ini

Lucu biasanya bila kita melihat tingkah laku sosok anak kecil yg polos...yang masih blm mengenal sesuatu itu benar atau salah.Terkadang anak kecil kalau dilarang tentang sesuatu malah pengen nyoba sampai dia tau ternyata itu bahaya sehingga dilarang oleh Umi atau Abinya.

Di negeri ini yang merupakan negeri impian, karena banyak faktor yg mungkin bikin iri negeri tetangga karena Kekayaan alam dan Keindahan alamnya serta letaknya yang sangat strategis sampai keragaman budaya ..tanpa disadari nikmat bisa hidup di negeri ini sangatlah berlimpah, tetapi kenapa negeri yang sangat kaya ini masih ada banyak rakyatnya yang serba kekurangan, padahal di negeri ini menganut paham demokrasi ( Demos = Rakyat dan Kratos= Pemerintahan ) yang kekuasaan tertinggi ditangan rakyat melalui wakil-wakilnya di DPR ( berapa persen ya wakil yang bener2 berjuang utk "Rakyat" kok ngene wae nasipe kata si Joko, Kie kie bae kata si Ujang, dan kaya kie bae kata si Parto

Dimana letak lucunya, ya tingkah laku dan perbuatan Pemimpin negeri ini, karena perbuatannya seperti anak anak kecil yang belum mengerti mana yang haq dan yang bathil.. padahal tidak sedikit yang bergelar S1 S2 S3 sampai S teler ..enak juga tuh es teler kalau musim panas... apa karena sekolahnya juga beli atau hanya sebagai keren2an g tau juga,

Sampai kapan negeri ini begini hanya waktu yang bisa menjawab dan kesadaran para generasi peneruslah yang bisa merubah segalanya tanpa mengesampingkan campur tangan sang maha Sutradara Allah SWT, karena negeri ini sebenarnya adalah negeri impian semua makhuk karena Full of everything ..tinggal siapa khalifah yang benar bisa dipercaya ..negeri ini adalah negeri besar yang konon menguasai hampir 2/3 Dunia ini dan kita percaya negeri ini akan bangkit lagi dari keterpurukan dengan introspeksi pada diri kita masing" apa yang harus kita berikan kepada negeri dan memilih calon pemimpin yang amanah bukan pemimpin yang minta dipilih dengan iming iming sesaat, Pemimpin yang benar mungkin akan menolak untuk mengajukan dirinya sebagai pemimpin karena Amanah yang diberikan adalah sesuatu yang maha berat, ada pertanggung jawabannya baik di dunia maupun di akhirat kelak , semoga pertolongan Allah dan campur tangan NYA kita akan mendapat seorang Punggawa yang mampu membawa negeri ini menjadi Negeri Impian menjadi kenyataan