Gempa di Mata Rasulullah Shallallahu’alayhi wa sallam dan Generasi Terbaik
Wahai saudaraku, sudah berulang kali Allah ‘Azza wa Jalla
mengingatkan kita dengan salah satu tanda kekuasaan-Nya berupa gempa
bumi di tanah Indonesia ini. Tak kurang ribuan nyawa telah kembali
kepada Rabb-nya.Ada di antaranya saudara kita, adik, kakak, istri,
suami, anak, dan orang tua kita.
Bagaimana kita mengambil hikmah dari kejadian ini saudaraku…?
Coba kita lihat terlebih dahulu bagaimana Nabi Shallallahu’alayhi wa
sallam beserta para generasi Islam terbaik yang tidak akan pernah ada
tandingan lagi di muka bumi ini menyikapinya………
Setidaknya dua kali gempa tercatat dalam riwayat hadits Nabi. Yang pertama di Mekah. Dan kedua di Madinah.
Pertama , Dalam hadits yang diriwayatkan oleh
Tirmidzi, Ibnu Kuzaimah, ad-Daruquthni, dan lainnya dari Utsman bin
Affan bahwa dia berkata,
“Apakah kalian tahu Rasulullah pernah berada di atas Gunung Tsabir di
Mekah. Bersama beliau; Abu Bakar, Umar dan saya. Tiba-tiba gunung
berguncang hingga bebatuannya berjatuhan. Maka Rasulullah menghentakkan
kakinya dan berkata: Tenanglah Tsabir! Yang ada di atasmu tidak lain
kecuali Nabi, Shiddiq dan dua orang Syahid.”
Kedua , hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik, dia berkata:
“Nabi naik ke Uhud bersamanya Abu Bakar, Umar dan Utsman. Tiba-tiba
gunung berguncang. Maka Nabi menghentakkan kakinya dan berkata:
Tenanglah Uhud! Yang ada di atasmu tiada lain kecuali Nabi, Shiddiq dan
dua orang syahid.”
Di antara pelajaran besar dalam dua riwayat di atas bahwa ternyata
gunung tidak layak berguncang saat ada 4 manusia terbaik ada di atasnya.
Nabi harus menghentakkan kaki dan mengeluarkan perintah kepada gunung
untuk menghentikan guncangan tersebut.
Di sinilah pelajaran besarnya bagi kita sebagai analisa pertama
tentang gempa. Bahwa keberadaan orang-orang shaleh di sebuah masyarakat
membuat bumi tidak layak berguncang. Kriteria keshalehan sangat spesifik
disebutkan dalam riwayat tersebut. Untuk kita, hanya tinggal dua
pilihan mengingat sudah tidak ada lagi nabi. Yaitu: Shiddiq. Kriteria
utama Abu Bakar adalah beriman tanpa ada rasa keraguan sedikit pun. Dan
Syahid. Mereka yang meninggal fi sabilillah.
Jika manusia dengan dua kriteria itu masih banyak yang hidup di atas
bumi, maka bumi tidak layak gempa. Sebaliknya, gempa terjadi manakala
bumi telah sepi dari keberadaan orang-orang dengan keimanan tanpa ada
kabut keraguan dan orang-orang yang meninggal fi sabilillah.
Dalam riwayat mursal yang disebutkan oleh Ibnu Abid Dun-ya, setelah
Rasulullah menenangkan guncangan beliau berkata kepada para shahabat,
“Sesungguhnya Tuhan kalian sedang menegur kalian, maka ambillah pelajaran!”
Gempa di Mata Umar bin Khattab radhiallahu anhu
Gempa juga tercatat pernah terjadi di Masa kekhilafahan Umar,
sebagaimana yang disampaikan dalam riwayat Ibnu Abid Dun-ya dalam
Manaqib Umar. Madinah sebagai pusat pemerintahan kembali berguncang.
Umar menempelkan tangannya ke tanah dan berkata kepada bumi, “Ada apa
denganmu?” Dan inilah pernyataan sang pemimpin tertinggi negeri muslim
itu kepada masyarakat pasca gempa,
“Wahai masyarakat, tidaklah gempa ini terjadi kecuali karena ada
sesuatu yang kalian lakukan. Alangkah cepatnya kalian melakukan dosa.
Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika terjadi gempa susulan, aku
tidak akan mau tinggal bersama kalian selamanya!”
Kembali, generasi terbaik itu mengajarkan ilmu mulia bahwa gempa
terjadi karena dosa yang dilakukan oleh masyarakat. Umar dengan tegas
menyatakan itu. Lebih tegas lagi saat dia bersumpah bahwa jika terjadi
gempa susulan, Umar akan meninggalkan Madinah. Karena itu artinya dosa
kembali dikerjakan dan tidak kunjung ditaubati.
Gempa di Mata Ka’ab bin Malik radhiallahu anhu
Shahabat Ka’ab bin Malik mempunyai pendapat yang mirip dengan Umar bin Khattabh. Inilah pernyataan lengkapnya tentang gempa,
“Tidaklah bumi berguncang kecuali karena ada maksiat-maksiat yang
dilakukan di atasnya. Bumi gemetar karena takut Rab nya azza wajalla
melihatnya.”
Ka’ab menyebut bahwa guncangan bumi adalah bentuk gemetarannya bumi
karena takut kepada Allah yang Maha Melihat kemaksiatan dilakukan di
atas bumi-Nya.
Gempa di Mata Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu anha
Inilah pelajaran yang diberikan oleh guru besar para shahabat dan
tabi’in sepeninggal Nabi selama 47 tahun; Aisyah istri Nabi, seperti
yang disampaikan oleh Ibnu Qayyim dalam kitabnya al-Jawabul Kafi.
Suatu saat Anas bin Malik bersama seseorang lainnya mendatangi
Aisyah. Orang yang bersama Anas itu bertanya kepada Aisyah: Wahai Ummul
Mukminin jelaskan kepadaku tentang gempa.
Aisyah menjelaskan,
“Jika mereka telah menghalalkan zina, meminum khamar dan memainkan
musik. Allah azza wajalla murka di langit-Nya dan berfirman kepada bumi:
guncanglah mereka. Jika mereka taubat dan meninggalkan (dosa), atau
jika tidak, Dia akan menghancurkan mereka.
Orang itu bertanya kembali: Wahai Ummul Mukminin, apakah itu adzab bagi mereka?
Aisyah menjawab, “Nasehat dan rahmat bagi mukminin. Adzab dan kemurkaan bagi kafirin.”
Anas berkata: Tidak ada perkataan setelah perkataan Rasul yang paling mendatangkan kegembiraan bagiku melainkan perkataan ini.
Sangat gamblang dan jelas penjelasan Ummul Mukminin Aisyah tentang
penyebab spiritual gempa. Tiga dosa yang semuanya marak di zaman kita
ini. Khusus untuk dosa yang pertama, Aisyah menggunakan kata
istabahu
yang artinya masyarakat telah menganggap zina itu mubah. Zina tidak
hanya dilakukan, tetapi telah dianggap mubah. Dari ucapan, tindakan,
kebijakan sebuah masyarakat bisa dibaca bahwa mereka yang telah
meremehkan dosa zina, memang layak dihukum dengan gempa.
Inilah sepenggalan karakter Nabi Shallallahu’alayhi wa sallam dan
orang-orang di sekeliling beliau dalam memandang dan menyikapi gempa
bumi sebagai salah satu tanda kekuasaan Allah Al ‘Aziiz Al Hakim (Yang
Maha Berkuasa Maha Bijaksana).
Allahu a’lam